Panggung “Jazz” untuk Para Budayawan Perusahaan

Jika para penggemar musik jazz di Tanah Air punya ajang bergengsi Jak Jazz, maka para “budayawan” perusahaan praktisi dan peminat budaya perusahaan difasilitasi oleh Corporate Culture Festival. Begitulah Red Piramid membanggakan acara yang mereka gelar di Hotel Borobudur, Jakarta, Rabu – Kamis (18 – 19/4/07). Acara dibuka dengan forum panel yang menampilkan pendiri dan mantan CEO Kelompok Kompas-Gramedia Jacob Oetama dalam sebuah pidato yang bersahaja namun berwibawa.

Dalam presentasi tanpa teks maupun power point itu, Jakob mengingatkan bahwa perusahaan tidak hanya merupakan suatu organisasi, tapi juga sebuah organis. Di dalamnya tidak hanya ada unit-unit lembaga (keuangan, pemasaran) tapi juga terdapat kehidupan bersama dan interaksi. Juga, diikat bukan saja oleh aturan dan tata hubungan yang organisatoris, tapi juga dengan jiwa, falsafah, pandangan, nilai-nilai dan tujuan.

“Tidak mungkin perusahaan hidup hanya dari tata manajemen organisasi, betata pun hebatnya. Yang memberi makna itu organisnya, orang-orangnya,” ujar mantan Pemimpin Redaksi Harian Kompas itu. Menurut dia, mengingat kembali hal itu merupakan upaya untuk mencari pintu masuk untuk berbicara tentang “culture matters” dalam kaitannya dengan corporate culture. Pendekatan atau pandangan “organis” melihat perusahaan juga tumbuh menjadi suatu entitas yang bersosok.

“Karena suatu organisasi itu (bersifat) organis, maka di dalamnya ada kehidupan, ada sikap, ada nilai-nilai, ada visi dan misi, dan ada budaya. Budaya perusahaan menjadi sumber kehidupan, perkembangan dan dinamika suatu entitas bisnis,” papar dia seraya menyarankan sebuah nilai yang universal dalam tujuan usaha. Yakni, mencari untung dalam konteks yang “mencakup” dan mulia: membuka lapangan kerja, memberi kesempatan anak-anak muda mempraktikkan ilmu dan semangat mereka.”Budaya korporat harus bisa menangkap itu, serta menjadikannya suatu kesempatan dan tantangan untuk ikut melaksanakannya,” tanda Jacob.

Teori dan Pengalaman

Menampilkan 18 track seminar dengan 16 pembicara, Corporate Culture Festival 2007 diikuti oleh 270 peserta dari Jakarta dan sekitarnya. Mereka tidak hanya datang dari perusahaan swasta, tapi juga lingkungan pemerintah daerah. Dari Tangerang misalnya, seluruh anggota dan ketua DPRD hadir mengikuti acara tersebut.

Direktur HR Agung Sedayu Herry Tjahjono, yang ditampilkan dalam dua track pada hari yang berbeda, menyita paling banyak perhatian peserta. Pada hari pertama, penulis buku laris The XO Way itu menyampaikan materi tentang “Successful Leader Through Corporate Culture”. Dan, pada hari kedua praktisi yang dikenal luas sebagai corporate culture therapist itu berbicara tentang “Corporate Culture Management: The Sacred Soul of Corporate Culture”.

Managing Partner Red Piramid Steve Sudjatmiko juga tampil dalam dua sesi yang berbeda, masing-masing dengan tema “Discovering Organization DNA” dan “Transformation of Corporate Culture”. Selain menghadirkan sesi-sesi yang bersifat “teoritis”, rangkaian seminar juga dilengkapi dengan sesi yang berisi sharing pengalaman dari perusahaan-perusahaan yang dinilai sukses menjalankan budaya perusahaannya.

Staf senior untuk Board of Director pada Bank NISP Ruby Indrakusuma misalnya, memaparkan pengalaman perusahaannya dalam memberdayakan budaya perusahaan sebagai senjata untuk membuat strategi menghadapi perubahan. Sedangkan, Group Head Risk&Compliance PT Indosat Benny Salindeho berbagi pengalaman tentang “Building Communication Corporate Culture”.

Tags: