Overtime! Menjawab e-mail di Luar Jam Kantor?

KEBEBASAN dalam bekerja (flexible time) saat ini memang banyak sekali pilihannya. Era maraknya social media yang ditandai dengan makin terkoneksinya para talent dengan dunia luar, memungkinkan orang bekerja di mana saja dengan hasil yang sama persis atau malah lebih bagus ketimbang ketika dikerjakan di rumah.

Perubahan cepat memang sedang terjadi di era serba internet seperti sekarang ini. Tentu saja termasuk di dalamnya adalah perubahan-perubahan di area HR. Salah satunya adalah isu tentang relevansi jam kerja. Misalnya, Chris Matyszczyk yang menulis di Cnet.com bahwa menjawab e-mail di luar jam kerja, termasuk overtime. Kok bisa?

Seorang lawyer di Brazil, seperti dilansir Associated Press, mengatakan bahwa jika sebuah perusahaan mengirimkan e-mail kepada karyawannya setelah jam kerja seperti yang sudah dialokasikan, maka hal ini adalah sama seperti jika seorang atasan sedang memberikan suatu instruksi untuk melakukan suatu tugas pekerjaan tertentu.

Ergo, pengacara tenaga kerja di Brasil berpendapat, jika seorang pekerja menerima e-mail dan harus bertindak berdasarkan e-mail tersebut, maka hal itu sudah memenuhi syarat untuk lembur. Wacana ini tentu saja menjadi hal baru, seiring dengan kebijakan banyak perusahaan, khususnya di negara-negara maju, yang mewajibkan setiap karyawannya harus on-call selama 24 jam sehari.

Bisa jadi, inilah imbas dari kenyataan bahwa dunia saat ini begitu datar dan sudah semakin terhubung satu sama lain. Di sinilah tantangan buat para praktisi HR, menyelaraskan team work di organisasi yang kini terasa berputar sangat cepat, agar tetap seimbang (work-life balance) dengan kepentingan para karyawannya, baik sebagai makhluk pribadi, sosial maupun religi.

Kalau sudah begini, apakah ungkapan berikut ini masuk akal? “You want me to answer an e-mail at 9 p.m.? That will be $900. Night-rates, you understand.” Silahkan, Anda yang memutuskan. (*)

Tags: