Outsourcing itu Sebuah Keniscayaaan

Outsourcing seminar

 

 

 

Tanpa disadari sebenarnya jasa outsourcing telah diterapkan jauh sebelum zaman modernisasi seperti sekarang. Pembangunan Piramida di Mesir salah satunya, untuk membangun saluran irigasi dan piramid, pemerintah Mesir menggunakan jasa outsourcing.

Sekiranya pernyataan itu yang disampaikan N Krisbiyanto selaku CEO People Consulting pada sesi awal seminar “Revamp the Outsourcing Regulations?” hari ini di Hotel Puri Denpasar Jakarta. Polemik mengenai pekerjaan inti dan non-inti, jenis pekerjaan yang boleh di outsource-kan, hingga kualitas perusahaan outsourcing menjadi agenda seminar yang dihadiri lebih dari 90 peserta.

Membludaknya jumlah peserta yang hadir menurut Kris merupakan pertanda isu outsourcing terlalu membingungkan masyarakat, dimana kebijakan yang dibuat pemerintah masih belum jelas. “pemerintah bilang hapus outsourcing ganti dengan tenaga alih-daya, secara tidak langsung itu sama saja kan,” ujar Krisbiyanto.

Permasalahan outsourcing sudah bukan lagi isu regional, jumlah perusahaan outsourcing saja sudah mencapai angka 6239 perusahaan dan akan terus berkembang. “Ini faktanya, jumlah pekerja outsourcing di Indonesia mencapai 300 ribu orang lebih tanpa pengontrolan yang jelas dan izin yang legal dari Pemda,” ujar Kris.

Masih di sesi yang sama, Sofyan Rofiq Ma’mun selaku Industrial Relation Expert dari PT Graha Bandung Sentosa menambahkan, dari 12 ribu perusahaan outsourcing di Indonesia, hanya 6 ribu yang mempunyai izin yang legal di Depnaker. Namun Sofyan mengaku di era globalisasi tidak mungkin untuk meniadakan outsourcing.

“Yang perlu dilakukan adalah menertibkan pelaksanaannya agar semua pihak bisa duduk bersama untuk mencapai kesepakatan,” ujar Sofyan. Pemahaman mengenai hubungan kerja  sebaiknya juga diketahui semua pihak, seperti UMR yang layak,”jangan asal dinaikkan, tapi seharusnya mereka mengukur dan memetakan agar solusinya berlaku untuk jangka panjang,” ujar Sofyan.

Dan berbicara tentang kesejahteraan karyawan, penyedia jasa outsourcing sendiri, mengaku hak dan gaji karyawan bukan hal yang bisa diutak-atik,“untuk operational sebaiknya jasa outsourcing dibagi menjadi 3 klasifikasi, kecil, sedang dan besar untuk membedakan reward yang diterima karyawan, jadi semua pihak terpenuhinya keinginannya,” ujar Farid Aidid, Managing Director Advanced Career Indonesia, yang juga menjadi salah satu pembicara.

Pada seminar ini turut hadir Presiden Asosiasi Serikat Pekerja (ASPEK INDO) yang menyampaikan aspirasi buruh di Indonesia, “Kita ingin karyawan outsourcing diperlakukan sesuai dengan peraturan perundang-undangan,” tegas Jaya Santosa.

Meski begitu Jaya mengaku bahwa Outsourcing telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat, untuk itu Jaya menanggapi dengan diplomatis, “Kita tidak ingin menghapuskan outsourcing, karena ini merupakan keniscayaan, seluruh dunia menggunakan jasa outsourcing, yang kita ingin karyawan outsourcing itu diangkat menjadi karyawan tetap, jangan begitu-begitu saja,” ujar Jaya.

Pada seminar ini juga hadir Irianto Simbolon dari Dirjen Ketenagakerjaan. Nantikan laporan kami selanjutnya. (*/@nurulmelisa)

 

Tags: