Organisasi Bersatu, Karyawan Lebih Sejahtera

Gerakan kaum pekerja di Indonesia yang selama ini terpecah-pecah menjadi sejumlah konfederasi membuat upaya memperjuangkan hak-hak karyawan menjadi tidak efektif. Jumlah konfederasi serikat pekerja yang mencapai tiga dirasakan terlalu banyak dan sudah saatnya melebur menjadi satu untuk lebih menyejahterakan anggotanya.
Itulah salah satu poin utama yang mencuat dalam pertemuan nasional serikat pekerja untuk konsensus politik di Sukabumi, Senin (23/11/09). Sedikitnya 50 aktivis serikat pekerja dan pemerhati ketenagakerjaan hadir dalam rapat akbar tersebut.
Para aktivis yang hadir merespons positif ide merger konfederasi serikat pekerja.
Pertemuan digagas oleh Konfederasi Serikat Buruh Sejahtera Indonesia (KSBSI) dan diselenggarakan bersama dengan Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI), Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (KSPSI), Friedrich Ebert Stiftung (FES) Indonesia, dan The American Center for International Labor Solidarity (ACILS).
Presiden KSBSI Rekson Silaban mengatakan, gerakan yang terpecah-belah membuat serikat pekerja tidak memiliki prioritas aksi yang diperjuangkan bersama. Oleh karena itu, gerakan kaum pekerja yang menyatu kini menjadi kebutuhan bersama agar perjuangan dapat menjadi lebih fokus.
Erwin Schweisshelm dari FES Indonesia (lembaga kajian perburuhan dari Jerman) memberikan referensi tentang keberhasilan gerakan pekerja di Jerman yang telah menjadi solid sejak 1949 (setelah terbentuk tahun 1863). Dikatakan, gerakan pekerja yang solid terbukti mampu mengantar Jerman menjadi salah satu negara dengan sistem negara kesejahteraan terbaik di dunia.
Menurut Erwin, kuncinya terletak pada kolaborasi yang kuat antara serikat pekerja dan partai politik, yang mampu menghasilkan regulasi mendasar untuk jaminan sosial, jaminan pekerjaan, dan jaminan kesejahteraan bagi pekerja.
"Serikat pekerja harus mengintervensi politik, namun harus tetap independen dari politisi," ujar Erwin.
Sekedar mengingatkan, saat ini Indonesia memiliki tiga konfederasi, yakni KSBSI, KSPSI, dan KSPI. Masing-masing mewadahi ratusan federasi dan ribuan serikat pekerja. Hanya Indonesia yang memiliki tiga konfederasi serikat pekerja.
Rekson mengingatkan, tidak ada yang mau mendengar suara pekerja apabila gerakan masih terfragmentasi. Untuk itu Rekson mengajak semua aktivis serikat pekerja untuk bersama-sama menentukan target waktu guna menyatukan gerakan.