Orang HR Harus Berani Stand Out

Banyak kegagalan program-program human resource development di sebuah organisasi disebabkan oleh ketidakpercayaan diri orang-orang HR sendiri. Untuk itu, orang HR mestinya harus berani stand out di depan para pimpinan bisnis untuk mengatakan bahwa pihaknya mampu meng-handle bidang yang menjadi tanggung jawabnya.

“Orang HR juga harus berani berbeda pendapat, kalau perlu menolak masukan dari CEO atau direktur lain yang tak didasari pengetahuan HR,” demikian tegas Vice President MRD Sinar Mas Group J Amry Daulay dalam seminar Change Leadership bertema The New Human Resources Competencies di Hotel Manhanttan, Casablanca, Jakarta, Kamis (23/11/2006).

Secara khusus Amry menyoroti masalah HR Personal Attribute sebagai salah satu bagian terpenting dari HR Core Competencies. Menurut dia, seorang eksekutif dan staf HR harus memiliki kompetensi-kompetensi tertentu agar mampu menjadi mitra strategis perusahaan dalam mencapai tujuan. Misalnya, berorientasi pada hasil, komitmen pada pekerjaan, mau terus belajar, berorientasi pada customer, memiliki kejujuran dan integritas tinggi serta loyalitas profesional.

Namun, sebelum sampai ke sana, Amry mengingatkan, perlu dilakukan identifikasi “mazab” HR perusahaan yang bersangkutan seperti apa. Ada lima “aliran pemikiran” manajemen HR, yakni Slave Management, Personnel Management, pre-HR Development, HR Development dan Human Capital. “Kompetensi yang diperlukan oleh orang HR ditentukan oleh corporate mindset tempat dia bekerja,” kata Amry.

“Kalau perusahaan itu levelnya masih Personnel Management atau pre-HR Development, atau pun bahkan Slave Management, maka diperlukan orang HR yang memiliki personal attribute sehebat superman,” tambah dia mengandaikan.

Amry mengingatkan bahwa di zaman modern ini masih ada praktik-praktik Slave Management yang cirinya antara lain produktivitas tinggi, tenaga kerja milik pengusaha, dikelola atas dasar kepentingan pengusaha dan ekstrim menekan biaya. Sedangkan Personnel Management cenderung mementingkan pengendalian daripada produktivitas, serta mengutamakan disiplin, manajemen waktu dan kepatuhan.

Yang sempurna, menurut Amry, tentu saja adalah perusahaan yang telah mencapai taraf Human Capital dalam mengelola karyawannya.”Namun, kebanyakan perusahaan di sini masih level HR Development, atau bahkan masih ada yang saya sebut pre-HR Development,” ujar dia seraya menjelaskan, perusahaan yang pre-HR Development mulai membutuhkan training tapi bukan development dan berbagai training itu tidak fokus. Mereka juga sadar untuk meningkatkan produktivitas, tapi enggan mengeluarkan biaya.

Adapun perusahaan yang HR Development telah mengaitkan training dengan development, memperhatikan dan mengembangkan sistem penilaian kinerja serta menjadi partner mengatasi masalah organisasi. “Kalau perusahaan yang Human Capital antara lain cirinya lebih memperhatikan kinerja yang bernilai tambah untuk perusahaan, menggunakan e-technology untuk menjalankan operasional HR-nya dan menjadi strategic partner bagi orang nomer satu di perusahaan.”

“Setelah tahu posisi perusahaan di mana, orang HR perlu melakukan riset, mencari referensi lalu talk to your boss, sehingga didapatkan kesepakatan internal untuk membangun kompetensi-kompetensi yang diperlukan tadi.” Pada titik inilah Amry menekankan pentingnya orang HR untuk percaya diri dan mampu menunjukkan bahwa dirinya kredibel.

“Kalau orang sales atau yang lain ngomong, semua akan dengerin, giliran orang HR yang ngomong, tiba-tiba semua jadi merasa pinter, merasa tahu. Orang HR harus tegas bahwa pihaknyalah yang paling tahu soal mengurus karyawan sehingga jangan takut menolak masukan dari, misalnya CEO, kalau memang tidak didasari pengetahuan tentang HR.”

Tags: