Orang HC yang Disukai Karyawan

Human Resources Department (HRD) memiliki peran yang sangat besar dalam kemajuan perusahaan. Termasuk dalam memberikan kontribusi untuk meningkatkan semangat dan kinerja karyawan. Sejatinya, praktisi HR merupakan strategic partner dewan direksi dalam mencapai tujuan perusahaan.

Identifikasi yang tepat terhadap kebutuhan perusahaan untuk meningkatkan kinerja karyawan akan memudahkan perusahaan dan khususnya departemen HR untuk menentukan metode atau langkah yang perlu dilakukan.

Salah satu cara yang dianggap adil dalam memberikan imbalan atau penghargaan yakni melalui evaluasi kinerja karyawan. Evaluasi kinerja bertujuan untuk menjamin pencapaian sasaran dan tujuan perusahaan. Di samping itu, evaluasi berguna untuk mengetahui posisi perusahaan dan tingkat pencapaiannya.

Sehubungan dengan itu, PortalHR bertanya kepada 20 orang karyawan tentang apakah orang HR di perusahaan mereka cukup membantu dalam penanganan masalah kekaryawanan. Lebih dari 50% karyawan mengatakan HR di perusahaan mereka kurang membantu dan hanya 30% karyawan yang mengatakan cukup membantu.

“HRD di tempat saya bekerja kurang efektif dalam penanganan kekaryawanan. Mereka kurang bisa merangkul para karyawan untuk bisa mengakomodasi keinginan karyawan-karyawan ini,” aku Teguh Saputro, karyawan perusahaan telekomunikasi swasta di Jakarta.

Menurutnya, HRD di tempatnya bekerja kurang dapat menjalankan fungsinya sebagai jembatan antara karyawan dan manajemen. Komunikasinya berjalan kurang baik dan terlalu berjarak. Sudah semestinya jika HRD lebih menjaga kedekatan dengan sesama rekan kerja agar dapat profesional dalam mengambil sikap. “Kebanyakan HRD tidak disukai dan terkesan cari muka terhadap atasan,” tambahnya.

Menurut founder Pendidikan Alternatif , FX. Gus Setyono, menjaga jarak dengan karyawan adalah suatu kesalahan fatal yang paling banyak terjadi di perusahaan-perusahaan. Sesuai dengan nama dan pekerjaannya, seorang HRD harus lebih ”merakyat” agar bisa menjadi panutan dalam menjalankan fungsi HRD.

“Bagaimana bisa mengembangkan orang kalau dia sendiri justru menjauh dan dijauhi karyawan. Saya sering mengkritik orang-orang HR dan stafnya karena urusan yang seperti ini. Menjaga image malah bisa menyulitkan mereka dalam menjalankan fungsi dan tugas-tugasnya. Semua harus tahu porsi dan sesuaikan dengan kebutuhan pekerjaan. Di luar itu, karyawan juga manusia biasa yang butuh sosialisasi,” ungkap Gus Setyono.

Gus Setyono menambahkan, HRD harus bisa berteman baik dengan karyawan, karena HRD adalah ujung tombak karyawan dan menjadi pihak penengah jika ada sesuatu di antara karyawan. Apabila HRD tidak bisa berteman dengan karyawan, perusahaan itu akan hancur, karena akan banyak karyawan yang tidak suka.

Seorang HRD, menurut Gus Setyono, tidak boleh “saklek”; harus fleksibel dan mampu merangkul semua kepentingan. Namun demikian, HRD juga harus punya “karakter”. Karakter HRD adalah mampu berpola pikir di atas semua kepentingan. ”HRD tidak boleh berpijak hanya pada satu bagian atau kepentingan. HRD harus mampu berpikir komprehensif; untuk kepentingan perusahaan secara keseluruhan, bukan per bagian, apalagi perorangan. HRD juga harus bisa berpikir ke depan; memikirkan dampak atas suatu kebijakan atau peraturan. Dia mesti bisa memandang semua kepentingan dari sisi yang objektif,” tuturnya.

Bila HRD berpijak pada satu kepentingan, peraturan yang dihasilkan pun hanya menguntungkan satu bagian. Sebaliknya, bila mampu berpikir secara komprehensif dan ke depan, peraturan yang dihasilkan untuk kebaikan dan kepentingan bersama.
Gus Setyono juga berpendapat, masing-masing bagian memiliki ke-khas-an dalam pola pikir dan kepentingan. Berkat pola pikir yang khas tersebut, mereka memiliki kompetensi di bidangnya. ”Sebagai HRD kita tidak boleh memaksa mereka untuk mengubah pola pikir dan kepentingan. Dengan mengubah pola pikir dan kepentingan, berarti kita membuat mereka tidak lagi memiliki kompetensi di bidangnya,” ungkap Gus.

Karena itu, menurutnya, dibutuhkan sense of art dalam mengelola manusia, dalam arti fleksibel namun berkarakter. ”Karakter HRD adalah berpola pikir dan berkepentingan untuk semua bagian di organisasi. HRD mesti memiliki ke-khas-an, yaitu mampu berpikir secara komprehensif. Itu yang mesti dipertahankan,” Gus menegaskan.–Nani Maria

Tags: