Nike Sulit Dipertahankan, 14 Ribu Karyawan Harus Diselamatkan

Massa karyawan dua perusahaan sepatu yang merupakan subkontraktor Nike Inc kembali berdemo di Jakarta, Senin (23/7/07) setelah tepat seminggu yang lalu melakukan aksi yang sama untuk menuntut kelanjutan kerja sama yang sudah terjalin antara dua pihak.

Ribuan karyawan PT Hardaya Aneka Shoes Industry (HASI) dan PT Naga Sakti Parama Shoes Industry (Nasa) berdemonstrasi di depan Gedung Bursa Efek Jakarta (BEJ) di Kawasan Pusat Bisnis Sudirman sejak pukul 13.30 WIB. Sama seperti aksi pekan lalu, mereka menuntut Nike tetap memberikan order sesuai kapasitas kedua perusahaan, dalam waktu tak terbatas. Pemilik Nike Inc didesak untuk memahami tuntutan para karyawan tersebut.

Sebelum berdemo di depan Gedung BEJ, tempat Nike Indonesia berkantor, para buruh menggelar orasi-orasi dan membentangkan poster serta spanduk di depan Departemen Perdagangan dan Kantor Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo).

Seperti telah ramai dilaporkan berbagai media massa, Nike menghentikan pemesanan sepatu setelah menilai kedua perusahaan itu dalam dua tahun terakhir tidak mampu menjaga mutu produksinya. Menteri Perindustrian Fahmi Idris dalam pernyataan awalnya mengenai sengekat tersebut menyatakan bahwa itu merupakan masalah bisnis antara dua perusahaan swasta, namun “pemerintah tidak akan lepas tangan.”

PT HASI dan Nasa merupakan dua dari 7 perusahaan di Indonesia yang memproduksi aksesori olahraga untuk Nike. Kedua perusahaan yang beroperasi di Tangerang tersebut secara eksklusif hanya mengerjakan sepatu untuk Nike sejak 1989, dan untuk itu keduanya mempekerjakan total 14 ribu karyawan.

Menurut pemiliknya, Hartati Murdaya, dua perusahaan itu selama ini memiliki kapasitas produksi sejuta pasang sepatu per tahun. “Tapi, sejak beberapa tahun terakhir Nike hanya memberi order 300 ribu pasang, dan tiba-tiba sekarang diputus, tentu saja karyawan marah,” tutur dia seperti dikutip Media Indonesia.

Oleh karenanya, Hartati meminta Nike bertanggung jawab dengan memberi pesangon kepada karyawan dua perusahaannya tersebut. Atau, Nike harus meninjau kembali penghentian order tersebut dan kemudian melakukannya secara bertahap. Namun, menyusul pernyataan terbaru dari pihak pemerintah yang menyebutkan bahwa Nike sulit dipertahankan lagi, agaknya tuntutan Hartati pun sulit terlaksana.

“Kami ingin tetap mempertahankan Nike, tapi lobi-lobi yang kami lakukan sudah mentok. Sekarang yang terpenting bagaimana menyelamatkan nasib belasan ribu buruh yang ada di sana,” demikian ujar Kepala Dinas Sosial dan Ketenagakerjaan Banten Opar Sohari di Serang, Senin (23/7).

Jika Nike benar-benar menghentikan kontrak, kata Opar seperti dilaporkan Kompas, pihak perusahaan harus memerhatikan nasib mereka. “Nike itu tidak memiliki kontrak langsung dengan buruh, tapi dengan HASI dan Nasa. Oleh karena itu, kedua perusahaan itulah yang harus menanggung kewajiban perburuhan, termasuk membayar uang pesangon,” kata dia.

Dengan rata-rata pesangon Rp 10 juta per orang, diperkirakan jumlah uang yang dibutuhkan Rp 140 miliar. Padahal, aset HASI dan Nasa belum cukup untuk membayar sebesar itu. Karenanya, dua perusahaan meminta waktu penyelesaian 18 bulan dan berjanji mengupayakan para buruh tidak terkena pemutusan hubungan kerja (PHK), dengan memindahkan mereka ke perusahaan lain yang masih satu grup.

Tags: