Nepotisme Juga Bisa Menguntungkan

Dalam perusahaan berskala kecil, atau bisnis yang dikelola keluarga, praktik HR seperti meng-hire karyawan biasanya lebih mempertimbangkan hubungan-hubungan kekeluargaan dibandingkan dengan keahlian. Benar, itu namanya nepotisme. Jika Anda mempraktikannya juga, jangan berkecil hati. Menurut sebuah riset di Inggris, nepotisme ada keuntungannya juga.

Penelitian yang dilakukan The Advanced Institute of Management (AIM) menemukan, praktik-praktik kerja yang sering dianggap tidak produktif dan tidak kompetitif, di samping sudah barang tentu tidak menguntungkan, ternyata tetap ada gunanya juga. Tergantung, jenis perusahaan yang dijalankan.

Gagasan-gagasan konvensional tentang praktik-praktik manajemen SDM dan kinerja perusahaan perlu dipikirkan ulang ketika menghadapi usaha kecil dan menengah. Khususnya lagi, industri rumah tangga. Konsep semacam High Performance Work Systems (HPWS) maupun praktik-praktik HR yang ideal mungkin banyak yang tidak cocok dengan unit-unit usaha berskala kecil.

Riset tersebut mengindentifikasi adanya 7 jenis usaha kecil/menengah/rumah tangga. Yakni, modern, closed niche, fraternal, atomistic, traditional family, sweatshop dan paternalistic. Dan, menemukan bahwa dalam usaha yang bersifat “fraternal” (kekeluargaan) yang telah memiliki pangsa pasar yang mapan, karyawan sering di-hire berdasarkan informasi dari mulut ke mulut.

Sumber-sumber keluarga sering membantu menyediakan bisnis, dan para pekerja tak jarang diperlakukan sejajar dengan fungsi manajer. Pada sisi lain, pekerja yang mempertanyakan harmoni kekeluargaan semacam itu justru akan tersingkir. Sementara, kemampuan untuk mengimplementasikan perangkat seperti HPWS sangat tergantung pada jenis usahanya.

Jenis usaha yang tergolong “modern” memiliki kecenderungan paling besar dalam kemampuan menggunakan ide-ide yang berkaitan dengan kinerja tinggi. Meskipun, hal itu belum didukung dengan keterampilan manajemen yang memadai untuk mengimplementasikannya secara baik.

Untuk jenis usaha yang lain, seperti “closed niche”, “fraternal” dan “traditional family” pendekatan yang terstruktur dengan sistem semacam HPWS justru kontra-produktif. Khususnya, jika hal itu memicu penolakan untuk mengubah harmoni yang telah tercipta antaranggota keluarga, atau antarkaryawan atau antara keduanya.

“Dengan memahami karakteristik yang mendefinisi jenis usaha, dan mengetahui letak usaha mereka dalam kerangka kerja, para manajer dan pemilik akan mampu memahami dengan lebih baik hubungan antara ketenagakerjaan dan kinerja, dan mengelola hubungan itu untuk mencapai keuntungan usaha,” ujar peneliti senior AIM Paul Edwards.

Tags: