Negara Rugi karena Banyak Brain Drain Wanita

dahlaniskan

HAKIKAT negara yang memiliki tujuan utama menyejahterakan rakyatnya, hendaknya menjadi panduan bagi seluruh BUMN dalam melaksanakan bisnisnya. Hal ini dikemukakan oleh Dahlan Iskan, Menteri Negara BUMN dalam acara Festival Knowledge Management yang berlangsung di Jakarta, pekan lalu. Ia berpendapat, negara tidak seharusnya menyaingi rakyatnya dalam berbisnis.

Namun demikian Dahlan mengingatkan, bahwa dalam hal-hal tertentu ketika negara memiliki perusahaan juga ada untungnya. “Misalnya saat terjadi krisis tahun 1998 dan 2008, bank-bank negara sanggup mengerem laju krisis, ini menunjukkan memiliki BUMN itu ternyata ada baiknya ketimbang tidak memiliki sama sekali,” ujarnya bersemangat.

Dahlan menjelaskan, posisi perusahaan negara harus mengisi posisi-posisi yang strategis saja, jangan masuk di semua lini. Untuk itulah BUMN-BUMN kini mulai ditata dan dikelompokkan. Di kelompok pertama adalah BUMN yang fokus di sektor ketahanan nasional, baik itu yang menyentuh kepentingan pangan, energi, maupun persenjataan.

Kelompok kedua, adalah BUMN yang akan digunakan sebagai engine of growth, untuk mendorong pertumbuhan ekonomi nasional. Di kelompok ini misalnya meliputi pembangunan jalan tol, bandara, maupun pelabuhan. “Kalau swasta bangun di sektor ini, khawatir return-nya tidak cukup, sehingga negara harus turun tangan sambil menunggu swastanya siap,” imbuhnya.

Kelompok ketiga, lanjut Dahlan, adalah BUMN-BUMN yang dipersiapkan untuk bisa tampil di gelanggang internasional. “Sudah ada beberapa calon, misalnya kita punya pabrik semen yang terbesar di Asia Tenggara. Kemudian Garuda Indonesia, sudah bisa mengalahkan Malaysia Airline dan Thai Airline, tinggal Singapura yang menjadi sasaran berikutnya. Kalau akhir tahun ini terbentuk holding perkebunan maka itu juga akan menjadi yang terbesar di Asia. Bank-bank kita, seperti Bank Mandiri dan BRI, saat ini nilainya jauh lebih tinggi dibanding bank-bank di Eropa,” tuturnya.

Brain drain Wanita

Menjawab bahwa Kementerian BUMN akan memberi kesempatan kepada para wanita untuk bisa tampil menjadi pemimpin di perusahaan negara, Dahlan menyebutkan saat ini sedang digodok kajiannya. “Saya berpendapat bahwa kalau di sebuah perusahaan akan diisi oleh pemimpin wanita, maka komposisi di jajaran board of director itu minimal harus ada dua orang. Karena kalau hanya satu perempuan maka sisi kewanitaannya tidak terlalu kelihatan, justru ia malah seperti laki-laki, sehingga ini malah kurang bisa memberikan kontribusi dan pengaruh positif bagi perusahaan,” paparnya.

Yang menjadi perhatian serius bagi Dahlan, bahwa saat ini banyak terjadi brain drain wanita di perusahaan-perusahaan negara. “Banyak sekali wanita-wanita berpotensi yang hilang dari peredaran dan ini seringkali terjadi setelah mereka melahirkan. Pilihannya memang sulit, karena ia harus menentukan tetap berkarir atau merawat anak. Dan nyatanya banyak yang memilih merawat anak, padahal setelah 2 tahun, ia ingin kembali bekerja. Persoalannya adalah posisinya sudah terisi, atau bahkan status kepegawaiannya sudah dicoret,” jelasnya.

Untuk itulah Dahlan mengusulkan agar untuk para wanita yang memiliki potensi menjadi pimpinan di sebuah perusahaan negara, ia bisa diberikan cuti melahirkan selama 2 tahun. “Tentu tidak untuk semua wanita, hanya yang memiliki potensi saja. Setelah dua tahun ia bisa kembali bekerja, meskipun tidak di posisi awal karena posisi itu biasanya sudah diisi orang lain. Dengan begini negara tidak dirugikan karena kehilangan wanita bertalenta dan tidak terjadi brain drain wanita,” tukasnya.

Aturan ini diakui Dahlan memang tidak mudah dilaksanakan. Dahlan pun berujar, “Mungkin untuk sementara ini, saya minta kepada BUMN-BUMN untuk memberikan ruangan khusus merawat bayi. Dengan demikian si ibu tetap bisa bekerja di kantor tanpa harus meninggalkan anak di rumah. Mudah-mudahn kalau yang ini bisa segera terlaksana.” (*/@erkoes)

Tags: , ,