Mirip Pemain Bola Bayaran, Karyawan Outsource Mestinya Lebih “Happy”

Karyawan outsource mestinya lebih “happy” dibandingkan dengan karyawan tetap, karena mereka seperti pemain bola bayaran yang bisa naik harganya seiring dengan terus meningkatnya kualitas yang bersangkutan. Demikian diungkapkan oleh Presiden Direktur PT Outsourcing Indonesia Sapto Satrioyudo di tengah presentasinya mengenai “Global Outsourcing Trend” dalam Forum Kajian Manajemen di Lembaga Manajemen PPM, Jakarta, Kamis (28/8/08).

“Outsourcing itu kan punya banyak vendor dan network, kalau kita bagus kita akan dicari dan nilai kita pun jadi naik,” tambah Ketua Umum Asosiasi Bisnis Alih Daya Indonesia (ABADI) itu. Diakui, “hukum” tersebut memang tidak berlaku untuk semua posisi. Sapto juga tidak menutup mata bahwa sampai saat ini memang masih terdapat persoalan dalam bisnis outsourcing di Indonesia, yang berujung pada tuntutan penolakan yang selalu disuarakan oleh kaum pekerja.

“Untuk outsourcing di pabrik memang perlu jalan keluar lain,” ujar dia.
Lebih jauh Sapto memaparkan, tren ke depan, para vendor outsourcing akan semakin terhubung dalam jaringan regional. Ketika jaringan tersebut telah terbentuk dengan kuat, posisi karyawan outsource akan diuntungkan. “Dengan adanya jaringan vendor outsourcing tersebut di wilayah regional, karyawan mestinya lebih suka bergabung dengan perusahaan outsourcing karena akan banyak yang memanggil mereka, untuk dipekerjakan di mana-mana,” prediksi Sapto.

“Pertanyaannya, apakah tenaga Indonesia sudah jadi demand?” tambah dia seraya menyarankan agar tenaga kerja Indonesia membekali diri dengan keterampilan bahasa dari berbagai negara, setidaknya dalam wilayah regional. Untuk saat ini, tenaga kerja outsource yang mulai banyak dicari dari Indonesia adalah bidang IT. “Banyak permintaan dari Timur Tengah,” tunjuk Sapto seraya menambahkan, Indonesia mestinya mengikuti jejak India dan Filipina yang tenaga outsource-nya sudah jadi demand di tingkat global.

“Malaysia juga sangat maju industri outsource-nya, dan pemerintahnya mendukung.”
Menurut Sapto, untuk bisa memasuki kancah global, perusahaan outsource di Indonesia harus memenuhi standar internasional, yakni bukan sekedar menyediakan jasa alih daya SDM melainkan sampai ke bisnis prosesnya. “Sekarang user mintanya sudah business process outsourcing, bukan lagi personnel employment outsourcing,” ujar dia. Sedangkan, dari sisi tenaga kerjanya sendiri, harus siap untuk tidak memiliki comfort zone melainkan terus-menerus fight dengan kualitas.

Tags: