Merekrut Orang Luar yang Sudah “Jadi” Bukan Jaminan Peningkatan Produktivitas

Seiring dengan semakin pudarnya istilah “karyawan seumur hidup”, ditambah dengan kondisi dunia kerja yang semakin mobile, banyak perusahaan memenuhi kebutuhan akan tenaga terampil dan berpengalaman dengan meng-hire orang yang sudah “jadi” dari luar.
Langkah tersebut memang bisa menjadi “jalan pintas” untuk meningkatkan produktivitas secara cepat. Namun, menurut sebuah survei, kedatangan orang baru tersebut bisa menimbulkan masalah-masalah yang tidak diinginkan.

Survei yang dilakukan Wharton School menemukan, karyawan yang sudah berpengalaman, ketika pindah ke sebuah perusahaan, akan membawa pola dan metode dari pekerjaan yang sebelumnya, sehingga di perusahaan yang baru, pengalaman tersebut menjadi kurang berguna. Oleh karenanya direkomendasikan, perusahaan sebaiknya berinvestasi untuk merekrut karyawan yang memiliki sedikit pengalaman dalam industri terkait lalu men-training mereka. Dengan demikian, adaptasi mereka terhadap strategi dan budaya perusahaan lebih bisa dikontrol.

“Dalam perspektif human capital, cara yang kedua itu lebih makes sense. Sebab, jika mengambil yang sudah banyak pengalaman, bisa dipertanyakan, apakah mereka membawa juga pengalaman yang lain yang mungkin negatif,” ujar profesor manajemen pada Wharton School Nancy Rothbard, yang juga anggota tim penulis laporan bertajuk “Unpacking Prior Experience: How Career History Affects Job Performance”.

Menurut laporan tersebut, kebiasaan-kebiasaan, berbagai rutinitas dan skenario-skenario berkontribusi terhadap kinerja dalam satu organisasi, bisa jadi justru akan merusak kinerja ketika diterapkan pada organisasi yang berbeda. Dalam hal ini, hubungan antara pengalaman kerja (di perusahaan) sebelumnya dengan kinerja (di perusahaan baru) tidaklah serta-merta bersifat positif.

Dikatakan, norma-norma dan nilai-nilai karyawan yang dalam budaya satu perusahaan tidak mudah untuk melintasi batas-batas budaya pada perusahaan yang lainnya. “Hal-hal seperti ini memang luput dari perhatian kita ketika orang hanya bicara tentang mobilitas,” ujar Rothbard. “Kita memperlakukan orang seperti roda yang bisa diputar di mana saja, dan akan berfungsi sama dalam situasi-situasi yang berbeda.”

Saat ini, perpindahan karyawan antarperusahaan memang menjadi isu penting dalam dunia ketenagakerjaan. Tim riset Wharton meneliti sejarah kerja 7200 karyawan dan pelamar kerja untuk mengungkap hubungan antara pengalaman kerja (sebelumnya) dengan produktivitas. Disimpulkan, memang ada hubungan yang kuat antara pengalaman yang dimiliki seseorang dengan pengetahuan dan keterampilan dalam bekerja. Namun, pada sisi lain, ada indikasi bahwa pengalaman kerja sebelumnya tidak selalu menjamin peningkatan produktivitas.

Tags: ,