Menggali Kreativitas HR ala Marketing

Kupu-kupu

BUAT ORANG HR, menjadi pekerjaan tersendiri ketika ingin meneruskan kebijakan manjemen kepada seluruh karyawan. Sayangnya, praktek HR pada umumnya selalu menerapkan pola yang itu-itu saja. Orang HR berpikir, setiap ada kebijakan baru, cukuplah selesai hanya dengan mengedarkan surat resmi dari perusahaan.

Padahal, orang HR pun bisa menumbuhkan kreativitas yang sama dengan divisi lain, seperti pada divisi marketing, sales maupun promotion. Hal ini mengemuka ketika Josef Bataona, Direktur HR Bank Danamon memberikan sharing di acara Industrial Gathering yang diselenggarakan oleh Binus Career, di Jakarta, akhir pekan lalu (23/2/12) bertajuk “A Story about Butterfly”.

Josef pun lantas menceritakan, bagaimana ia suatu ketika bersama timnya menggarap project HR. “Saya paling suka menggambarkan perjalanan Human Resources sampai ke tahap seperti sekarang ini dengan menggunakan analogi Kupu-kupu,” tuturnya.

Waktu itu, secara diam-diam Josef bersama tim HR hendak menyosialisasikan sebuah program HR baru. Idenya adalah membuat acara yang berkesinambungan, hari demi hari, menyerupai sebuah permainan puzzle raksasa yang harus diselesaikan oleh banyak orang.

Suatu hari, begitu karyawan tiba di lobi kantor, mereka menemukan billboard besar yang ditempeli ratusan kupu-kupu beraneka warna, yang tentu saja ini bukan kupu-kupu asli. Tugas karyawan sangat sederhana.
Karyawan diperbolehkan mengambil kupu-kupu yang mereka sukai. Hingga, begitu semua kupu-kupu diambil, nampaklah gambar di billboard: sebuah kepompong! Dalam tahap ini, karyawan tidak menyadari bahwa mereka tengah memainkan sebuah skenario dari divisi HR.

Josef menjelaskan, bahwa kepompong ini melambangkan sebuah makluk yang dingin, menutup diri, mojok, dan tentu saja tidak cantik penampilannya, sehingga tidak ada yang menyukainya. Begitu mereka tiba di lantai masing-masing, ditemukan poster yang mencoba memberikan interprestasi karakter pemegang kupu-kupu berdasarkan warna kupu-kupu yang telah diambil.

“Diskusi pun marak sepanjang hari. Tentu saja, ada yang setuju, ada pula yang tidak sependapat kalau karakter dirinya seperti yang tergambarkan,” jelas Josef sambil menambahkan bahwa sampai di titik ini, orang menduga pasti ada brand activation dari marketing dan mereka mulai menebak brand apakah gerangan.

Karyawan kembali dibuat penasaran. Ini terlihat ketika dua hari kemudian, billboard yang penuh dengan kupu-kupu kembali ditemukan lagi di loby. Mengingat kejadian sebelumnya, kali ini karyawan lebih berhati-hati daam memilih kupu-kupu kesukaan mereka. Kejadian berulang, karena begitu tiba di lantai masing-masing, ada juga poster lain yang menjelaskan warna kupu-kupu, karakter dan pilihan karier yang paling sesuai.

Josef mengakatan, debat berkepanjangan kembali terjadi, karena ada yang setuju ada juga yang tidak setuju. “Ini memang bukan urusan salah benar. Lebih kepada seuatu tentang aktivasi program baru saja,” lanjutnya.

Rasa penasaran karyawan, akhirnya terjawab sudah. Begitu kali ketiga papan penuh kupu-kupu dipreteli, ditemukan logo HR dengan kata-kata: Grow People for Growth is Our Vision. Sekali lagi, setibanya di lantai masing-masing, para karywan menemukan poster berisi HR Key Service Attributes.

Josef kembali menceritakan, sejalan dengan itu semua, karyawan diundang untuk Launch HR Service Excellence, mengawali HR Transformation Program di lantai HR, lengkap dengan berbagai boots penjelasan tentang program yang baru saja diluncurkan. “Ini merupakan pola peluncuran program HR yang baru, seperti layaknya orang marketing meluncurkan produk baru. Pelajarannya, cara ini jauh lebih efektif ketimbang hanya surat edaran yang menjelaskan tentang program baru,” tukas Josef. (@erkoes)

Tags: ,