Mengelola Stress, Keseimbangan dan Beban Kerja Kunci Sustainable Engagement

stress kunci sustainable engagement

 

PERTUMBUHAN bisnis yang kuat di Indonesia memicu peningkatan kompetisi untuk pencarian best talent, dan secara internal para pengusaha di Indonesia dituntut untuk lebih memfokuskan upayanya dalam meningkatkan koneksi dengan karyawan dan mengkomunikasikan nilai dari penghargaan terhadap karyawan sebagai cara untuk mengurangi resiko retensi.

Dari hasil Towers Watson Global Workforce Study (GWS) 2012, yang dilaksanakan di berbagai industri di 29 pasar di seluruh dunia, menunjukkan bahwa karyawan di Indonesia mempertimbangkan “stress, keseimbangan dan beban kerja” sebagai faktor utama yang mempengaruhi keterikatan yang berkelanjutan.

Hubungan yang dekat antara tingkat keterikatan karyawan dan persepsi mereka terhadap stress dan beban kerja ini juga jelas terlihat di mana 76% dari karyawan yang memiliki keterikatan melihat tingkat stress di tempat kerja dapat dikelola, sementara dari kelompok karyawan yang tidak memiliki keterikatan hanya 30%. Demikian pula proporsi yang lebih tinggi secara signifikan dari karyawan yang memiliki keterikatan yakin bahwa beban kerja mereka masuk akal, dibandingkan dengan karyawan yang tidak memiliki keterikatan.

Seperti diketahui, perubahan organisasi sering mengakibatkan tingkat stres yang tinggi. GWS 2012 menunjukkan bahwa karyawan Indonesia yang memiliki keterikatan ternyata lebih tangguh dan adaptif terhadap perubahan, dibandingkan dengan karyawan yang tidak memiliki keterikatan.

Secara keseluruhan, 26% responden di Indonesia mengatakan bahwa mereka lelah dengan segala perubahan yang terjadi di perusahaan. Sebagai perbandingan, hanya 17% dari karyawan yang memiliki keterikatan mengatakan bahwa mereka lelah dengan perubahan, sementara proporsi yang lebih tinggi dari karyawan yang tidak memiliki keterikatan (35%) merasa lelah. (*/@erkoes)

Baca juga: Global Workforce Study 2012 Mencengangkan: 2/3 Karyawan Disengaged!

Tags: , ,