Mengejar Impian, Sepenggal Cerita Anak Bangsa

Ada rasa haru dan bangga begitu menyaksikan pemutaran perdana film dokumenter “Mengejar Impian” produksi Kalyana Shira Foundation bekerja sama dengan Putera Sampoerna Foundation, Selasa (9/11) di Studio Blitzmegaplex Pacific Place, Jakarta. Film yang ditayangkan bersamaan dengan kedatangan Presiden Amerika Serikat, Barack Obama, ini seolah menyajikan kondisi nyata bagaimana masalah pendidikan di negeri ini. Bagi sebagian masyarakat, memperoleh pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi harus direbut dengan susah payah.

Adalah Nuning, Tika, Cahya, Aang dan Rahmatillah, nama-nama tokoh dalam film tersebut, sebagai representasi dari jutaan anak muda Indonesia yang begitu mendambakan untuk bisa melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi. Bisa bersekolah, buat mereka, rasanya seperti mimpi yang tak mungkin menjadi nyata. Mereka ini memiliki keterbatasan ekonomi, kendala klasik bagi keluarga pra sejahtera yang melihat pendidikan tak ubahnya barang mewah.

Hingga suatu hari, datanglah informasi yang mengabarkan adanya beasiswa di Sampoerna Academy atau SMAN 10 Malang, Jawa Timur, sebuah sekolah berasrama yang menyediakan pendidikan berstandar internasional yang dikhususkan bagi siswa berprestasi dari keluarga pra sejahtera. Di sinilah film berdurasi 45 menit ini, menurut sutradaranya, Nia Dinata, “meminjam kehidupan” kelima anak-anak di atas yang berasal dari daerah terpencil di Jawa Timur dalam berjuang mengejar impiannya.

Anak-anak ini harus rela belajar dengan keras, mempersiapkan diri di tengah kesibukannya membantu orang tua berjualan, mengenyampingkan waktu bermain seperti anak muda lainnya dan harus bisa memenangkan persaingan di antara kandidat penerima beasiswa lainnya. Nuning dkk. adalah segelilir dari sekitar 3.100 calon siswa yang yang pada akhirnya menjadi bagian dari 150 siswa di Sampoerna Academy. Kecuali satu yang kurang beruntung, Rahmatillah.

Nenny Soemawinata, Managing Director PSF usai pemutaran film menjelaskan, kenapa pihaknya tergerak untuk membuat film Mengejar Impian. “Film ini sarat dengan pesan bahwa pendidikan di negeri ini harus didukung oleh banyak pihak. Apa yang kami lakukan hanya sebagian kecil kontribusi pada pendidikan nasional. Masih banyak anak-anak muda yang belum seberuntung Nuning dan kawan-kawan, dan itulah tanggungjawab kita semua,” ujarnya. Nenny berharap, pesan dari film ini bisa disosialisasikan ke semua pihak. “Sehingga, semakin banyak orang yang bergerak. Pendidikan bermutu dan terjangkau oleh anak Indonesia bukanlah mimpi,” ujarnya.