Membangun Kompetensi Harus Didasarkan pada Nilai Perusahaan

Belakangan, kompetensi menjadi mantra baru yang didengung-dengungkan oleh kalangan HR seiring makin meningkatnya kesadaran akan pentingnya competencies bases management. Bagi perusahaan yang baru memulai membangun kompetensi, tak kalah penting untuk diperhatikan bahwa kompetensi harus dibangun berdasarkan nilai yang dikembangkan oleh perusahaan.

“Harus dilihat dulu, value perusahaan itu apa, baru kemudian diterjemahkan ke dalam kompetensi,” demikian ditegaskan oleh mantan Direktur HR American Express Bank Adriani Sukmoro dalam seminar Change Leadership bertema The New Human Resources Competencies di Hotel Manhanttan, Casablanca, Jakarta, Kamis (23/11/2006).

Dia juga mengingatkan perlunya orang HR untuk berbicara dengan jajaran business leader berkaitan dengan proses membangun kompetensi tersebut. Untuk memudahkan pemahaman, Adriani memberi contoh, sebuah perusahaan yang memiliki nilai profesionalisme. “HR harus datang dengan ide, profesionalisme itu identik dengan apa, bagaimana mengukurnya, misalnya dikaitkan diterjemahkan menjadi komitmen karyawan pada pekerjaan, atau personal accountability.

Di samping itu, kompetensi juga dibuat berdasarkan tingkatan karyawan. Secara teoritis, Adriani memaparkan setidaknya terdapat delapan kompetensi utama yang penting untuk dikembangkan untuk mencapai tujuan perusahaan. Yakni, development winning strategies, drive result, focus on the customer & client, drive innovation & change, build & leverage relationships, communicate affectively, build diverse talent dan demonstrate personal excellence.

Bagi seorang eksekutif atau staf HR, Adriani menjelaskan, kompetensi untuk focus on the customer & client, misalnya, bisa diterjemahkan ke dalam pemberian reward kepada karyawan. “Customer HR itu siapa? Karyawan kan? Nah, kalau perusahaan sudah menuntut karyawan harus perform, maka HR harus bisa mengantisipasi kebutuhan mereka. Setelah mereka kerja keras, apa balas budinya?”

Dalam hemat Adriani, secara proaktif mengantisipasi kebutuhan-kebutuhan customer merupakan salah satu kompetensi yang penting dan harus diperhatikan oleh HR. “Bikin program-program kesejahteraan yang sejajar dengan kontribusi yang telah diberikan karyawan. Jika HR tak menyadari pentingnya hal ini, mereka (karyawan) akan mencari kebutuhan itu di tempat lain, alias rame-rame meninggalkan perusahaan,” papar dia.

Inovasi

Kompetensi lain yang banyak disoroti adalah kemampuan menggerakkan inovasi dan perusahan. Diingatkan, divisi HR pernah memberi sumbangan yang nyata dan besar pada awal 1990-an. Yakni, ketika teknologi HR ditemukan dan sejumlah administrasi mengalami proses elektronisasi, misalnya sistem penggajian. “Dengan adanya teknologi, payroll menjadi sesuatu yang tak dihargai lagi, artinya itu sesuatu yang jelas rutin dan pasti, tiap bulan karyawan gajian, sehingga ada perusahaan yang meng-outsource kegiatan itu.”

Kompetensi inovasi juga mengubah posisi HR tak lagi identik dengan pihak yang paling mengetahui rahasia karyawan. “Sekarang, kalau ada yang memerlukan data atau misalnya ingin tahu gaji karyawan tertentu, tinggal masuk ke sistem komputer…ini juga menciptakan penghematan biaya bagi perusahaan,” kata Adriani.

Tags: