Membangun Kesantunan di Social Media

Di era sekarang, banyak yang menyebut bahwa setiap orang adalah jurnalis bagi dunianya sendiri. Melalui kemudahan yang ditawarkan di internet, setiap orang bebas menyuarakan ekspresinya melalui situs jejaring sosial. Sayangnya, kebebasan berekspresi ini tidak dibarengi dengan etika dan kedewasaan dalam bersikap.

Untuk urusan tulis menulis dan menyampaikan informasi, di jalur media utama kita mengenal yang namanya wartawan, periset, dosen, peneliti maupun para profesional lainnya yang dalam menjalankan tugasnya ia dinaungi oleh standar etika profesi. Proses menjadi wartawan, misalnya, tidaklah gampang. Beberapa perusahaan media cetak besar biasanya memberlakukan standard yang ketat dalam hal merekrut wartawan baru.

Selain digembleng dari sisi hard-skill menulis, seorang wartawan juga dibangun soft kompetensinya melalui etika jurnalistik yang mengedepankan integritas, menyuarakan kebenaran dan bertanggungjawab penuh dengan apa yang ditulisnya. Standar ini kurang lebih berlaku sama untuk profesi lain yang hendak mempublikasikan ide, gagasan, maupun penelitian.

Plagiator bisa jadi adalah momok dan mimpi buruk bagi para peneliti maupun dosen yang kedapatan tidak jujur dengan cara mengakui karya orang lain demi sebuah gelar. Orang yang dicap sebagai plagiator, bisa jadi adalah vonis seumur hidup yang bisa mengakhiri karir seseorang.

Kini kita saksikan bersama, semua orang bereforia dengan jalur media alternatif, yakni sosial media yang selain gratis, juga mudah sekali cara mendapatkannya. Anda tentu setuju bahwa memiliki akun di Facebook, Twitter, Youtube, Linkedin, WordPress, Google Plus, Posterous, Tumblr seperti membalikkan telapak tangan saja. Tidak ada seleksi-seleksian bagi siapa saja yang ingin memiliki media tersebut. Semua serba mudah, semua serba bebas.

Saking bebasnya, orang bisa menyamar menjadi orang lain. Tanggungjawab personal, menjadi urusan nomor kesekian. Yang penting adalah bersuara, tergantung mau ke mana ia membawa kepentingannya. Ada yang hanya sekadar menunjukkan eksistensinya, ada yang suka nampang, ada yang ingin pamer ke orang lain, hingga yang mengkhawatirkan adalah adanya kepentingan terselubung maupun mengusung sebuah misi rahasia.

Di sinilah kedewasaan dalam bersosial media sangat diperlukan. Kebebasan seseorang sejatinya dibatasi oleh kebebasan orang lain. Dan ketika kebebasan itu menabrak kebebasan orang lain, di sinilah persoalan muncul. Siapa saja tentu tidak ingin dibuka kejelekan dan aibnya. Pembunuhan karakter melalui media di dunia maya, sama persis dampaknya di dunia nyata.

Selalu ada dua sisi memang. Sisi baiknya, sosial media dirasakan manfaatnya telah banyak membantu banyak orang menemukan teman lamanya, maupun keluarga yang terpisah jauh secara jarak. Sosial media juga sangat powerfull dalam membina karir maupun profesi. Banyak orang nasibnya berubah 180 derajat menjadi baik lantaran ia bisa memanfaatkan sosial media. Sebaliknya, sisi buruk selalu tidak bisa kita hindari.

Banyak pula kasus di sosial media menjadikan seorang pemenang mendadak jadi pecundang. Tidak sedikit orang yang kehilangan pekerjaan karena tidak bijak bersosial media. Ironisnya, begitu banyak pelajaran ini, toh sering kita temukan orang yang masih saja seenaknya dalam berinteraksi di dunia maya.

Sekadar mengingatkan, saat ini telah diberlakukan UU No 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik. Secara garis besar, Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU-ITE) mengatur berbagai perlindungan hukum atas kegiatan yang memanfaatkan internet sebagai medianya, baik transaksi maupun pemanfaatan informasinya. Pada UU-ITE ini juga diatur berbagai ancaman hukuman bagi kejahatan melalui internet. UU-ITE berpotensi dimanfaatkan perusahaan yang merasa dirugikan di dunia maya untuk menuntut seseorang via jalur hukum. Prita, yang di mata para aktivis social media tidak bersalah, harus berjibaku menghadapi tuntutan hukum karena diadukan RS OMNI yang merasa dicoreng nama baiknya.

Kasus Prita ini bisa menjadi pemicu banyak pihak yang merasa dirugikan di Internet untuk menempuh jalur hukum. Kecerobohan pengguna media sosial, dengan menulis status di Twitter, Facebook dan media sosial lain, yang merugikan pihak lain, bisa saja dibawa ke jalur hukum.

Benang merahnya, kedewasaan dalam membawa diri di sosial media, tanggung jawab pribadi atas apa pun yang kita tulis di jejaring sosial, hendaknya seiring sejalan dengan sosialisasi bahwa kesantunan di dunia maya tak beda dengan dunia nyata. Termasuk juga penegakan hukum bagi siapa saja yang melanggar. Dan aturan itu sudah ada, tidak untuk ditakuti tapi untuk disikapi dengan bijak. (rudi@portalhr.com)

Tags: ,