Melongok Trend Compensation and Benefit 2016

PortalHR

SIAPA TAK KENAL SAMSUNG? Tentu pertanyaan ini bersifat retorika dan tidak memerlukan jawaban sebagai bukti eksistensi dari perusahaan raksasa elektronik dari Negeri Ginseng, Korea Selatan tersebut. Tapi mungkin di antara kita tidak ada yang menyangka kalau Samsung dulu bisnis intinya adalah makanan, jualan mie! Dalam konteks kekinian tentu talent di Samsung sudah tidak ada lagi yang jago bikin mie, karena bisnisnya sudah berbeda arah.

Dalam perubahan bisnis yang diperagakan oleh Samsung, sebetulnya juga dilakukan oleh organisasi-organisasi di Indonesia. Sebut saja Telkom yang dulu dikenal sebagai raksasa teknologi karena diuntungkan oleh strategi monopoli. Namun saat strategi tersebut sudah tidak mempan lagi, Telkom mau tidak mau harus berubah kalau tidak ingin namanya tinggal sejarah. Dan perubahan itu pun pada akhirnya berimbas pada kompetensi intinya yang berubah, dan prioritas bisnisnya pun juga berubah.

PortalHR

Menurut N. Krisbiyanto, selaku Partner Rolling Arrays Indonesia, di industri perbankan juga tidak kalah menarik untuk disimak, setelah industri ini dihantam krisis moneter berulang kali. Krisbiyanto menyampaikan bahwa bank-bank dulu berbangga bisnisnya bisa jalan hanya tinggal duduk manis pelanggan pun datang sendiri. “Boleh jadi dulu bank-bank pilih kasih seenaknya sendiri dan hanya mau melayani segmen corporate. Kini situsinya berubah total. Pelanggan adalah raja, kini benar-benar berlaku. Sehingga, kalau mereka mau survive, pasar retail dan sektor mikro yang dulu tidak dilirik, kini gengsi itu harus dibuang jauh-jauh,” ujarnya di sela-sela Public Seminar “Compensation and Benefit Day’s” yang berlangsung di Jakarta, (16/3/16), mengangkat isu “Managing Compensation in Digital Age.”

Perubahan-perubahan inilah, imbuh Krisbiyanto yang kini menjadi tantangan bagi para praktisi HRD. HRD Division dituntut untuk bisa merancang reward atau paket compensation and benefit (Comben) yang akan men-drive business performance. Tidak kalah penting, strategi biaya efektif juga penting menjadi perhatian, karena bagaimanapun juga organisasi mempunyai limit. Dulu mungkin terdengar ‘kabar burung’ kalau organisasi plat merah alias BUMN ada yang memiliki dana unlimitted untuk meretain para talent-nya. Sekarang? Belum tentu!

Nah, bagaimana organisasi berkiblat, juga penting dilakukan, jangan sampai berkiblat pada benchmark yang salah dalam membandingkan organisasi kita dengan organisasi lain. Kalaupun organisasi memiliki bujet reward dalam jumlah besar, tentu tak bisa juga dibagi rata kepada seluruh employee-nya. Tentu ada prioritas dan diberikan kepada right employee yang biasanya diukur berdasarkan tampilan kinerjanya.

Dalam Public Seminar “Compensation and Benefit Day’s” para praktisi HR berkumpul untuk mendiskusikan isu-isu terkini. Beberapa pembicara berbagi pengetahuan dan pengalamannya, di antaranya; Irvandi  Ferizal, (Human Capital Director at PT Bank Maybank Indonesia Tbk.) berbagi topik mengenai “The New Age of Compensation & Benefit Strategy”, Yosi Widhayanti (Senior Vice President at Owlexa) mengangkat tema “Strategic Benefit Management in Managing Medical Expenses”, Josef Bataona (HR Director at PT Indofood Sukses Makmur Tbk.)  yang berbagai topik tentang “Gen Y  Remuneration” dan tidak kalah penting adalah bagaimana “Salary Survey Outlook 2014-2015” yang dibawakan oleh Lilis Halim Consulting (Director PT Towers Watson Indonesia). (*)