Melejitkan Performance Karyawan melalui Social Media

logo portalhr summit_posting

PERKEMBANGAN teknologi, khususnya teknologi informasi dan social media secara signifikan telah merubah cara organisasi berkomunikasi antar karyawan maupun atasan. Hal ini pastinya akan merubah kinerja dan mindset praktisi HR dalam berhubungan dengan lingkungannya.

Di ajang PortalHR Summit 2012, Krisbiyanto selaku praktisi HR sekaligus partner PortalHR bersama dengan Noerman Taufik (Binus Enterprise) membedah tantangan HR di era digital. Menurut Krisbiyanto, dengan makin berkurangnya natural resources, BBM makin mahal, transportasi sulit, serta kondisi jalanan yang macet tentu harus disikapi oleh para praktisi HR.

Beruntunglah, imbuh Krisbiyanto, saat ini teknologi telah banyak meringankan tugas HR jika ia tahu caranya. “Aplikasikan manfaat social media sebaik-baiknya, ciptakan lingkungan kantor menjadi lebih balance dan fun. Apalagi saat ini sudah banyak yang mulai memikirkan kantor dengan konsep telecommuting,” ujarnya.

Pengaruh social media, lanjut Krisbiyanto, mau tidak mau juga berdampak pada operasional bisnis. “Companies won’t sleep, and more companies in the future will be open for business around the clock, seven days a week,” ujar Kris sambil menambahkan dengan euforia media, paradigma dari HR tradisional nantinya akan bertranformasi menjadi HR in the new age.

Sementara menurut Noerman Taufik, sebenarnya keberadaan social media sudah ada sejak lama, namun social network seperti facebook dan twitter menjadi bentuk baru yang telah mengejutkan banyak pihak. Social media pun menjadi tidak dapat dihindari. “Yang bisa kita lakukan adalah menetapkan prioritas dengan tujuan yang ingin dicapai. Pilihlah tools dengan bijaksana, bukan dipengaruhi oleh trend dari publik. Apalagi untuk perusahaan, usahakan pemilihan social media dilandasi oleh besaran biaya dan fungsinya sebagai alternatif untuk mempermudah kinerja,” katanya.

Noerman mengingatkan, jangan mengganti program yang sudah berjalan hanya karena melihat manfaat “semu” dari social media yang belum terukur. “Kita perlu mengetahui bagaimana kolaborasi channel tersebut dapat membantu perusahaan untuk persuasi produk dan mengeksplorasi manfaat lainnya, yang perlu diperhatikan adalah momok social media sering tidak terkontrol masuknya. Inilah perlu pembatasan dan identifikasi langsung, dan kegagalan social media terbesar adalah ketika penggunanya tidak mampu meng-grouping,” ujarnya.

Dalam kesempatan itu, Noerman yang pernah bekerja di IBM, memberikan saran agar implementasi social media di dalam perusahaan atau disebut enterprise social network tidak menjadi masalah baru. Menurutnya hal pertama yang harus dilakukan adalah aktivitas ber-social media harus bisa terukur, apa manfaat dari hal yang dibicarakan, dan fokus pada quality komunikasi,” terangnya.

Noerman lantas memberikan tips-tipsnya. “Sukses social media bukan diukur dari jumlah followers atau traffic-nya, masih banyak kriteria lainnya. Tentukan manfaat dan tujuan organisasi terlebih dahulu,” imbuhnya.

Hal kedua, masih menurut Noerman, adanya executive support, di mana ini penting dilakukan karena penerapan social media mesti didukung oleh manajemen. “Kalau eksekutifnya tidak pernah support, bagaimana bisa jalan,” tambah Noerman.

Evaluasi rutin setiap sebulan atau enam bulan sekali terkait implementasi enterprise social network, lanjut Noerman, perlu dilakukan untuk mengeliminir kegagalan berkomunikasi antar tiap lini di perusahaan. Dan hal terakhir yang perlu diperhatikan, “Kita harus memperdayakan keterbukaan, asal jangan sembarangan karena berbicara mengenai enterprise social network itu berbeda dengan komunikasi di open social media.”

Noerman pun mengarahkan agar organisasi mulai memikirkan social media policy. “Yang harus diperhatikan juga dalam aktivitas social media adalah soal kepatutan. Mungkin semua orang bisa mengoperasikan facebook dan twitter, tapi tidak semua siap untuk berbicara dengan asas kepatutan,” ujar Noerman.

Sebelum menutup sessi itu, Noerman mendemonstrasikan enterprise social network yang merupakan karya anak bangsa secara ‘live’ dengan melibatkan para audiens. Ia pun lantas mengajak generasi muda untuk bisa tampil kreatif dan menciptakan social network buatan Indonesia. (@nurulmelisa)

Tags: , , , , ,