Meeting dan Email Kuras Energi Karyawan

Panggilan dari bos untuk meeting mungkin mulai membuat Anda malas beranjak dari tempat duduk. Belum lagi email yang menumpuk setiap hari lama-lama bikin Anda pusing. Kalau itu yang terjadi, jangan khawatir, Anda tidak sendiri. Dua pertiga manajer, menurut sebuah survei terbaru, mengeluhkan meeting yang tiada habis-habisnya dan email yang berderet-deret sebagai penyebab terkurasnya energi mereka di tempat kerja.
Survei yang dilakukan atas 350 manajer dan direktur HR oleh lembaga konsultan HR Chiumento dan Majalah HR Personnel Today di Inggris itu secara umum meneliti faktor-faktor yang turut mempengaruhi terganggunya kinerja dari level yang semestinya. Ditemukan, faktor-faktor itu adalah kurangnya tidur di rumah, terlalu sedikitnya waktu istirahat di kantor, makan yang tidak teratur dan gaya hidup yang cepat sekali berubah-ubah.
Dua pertiga responden mengaku tidak memiliki energi yang cukup untuk merasa sepenuhnya produktif dalam bekerja, dan mereka menyalahkan meeting yang tidak berkesudahan dan email yang seabrek-abrek sebagai penyebab utamanya.
Mereka yang saparan setiap pagi, tidur cukup pada malam sebelumnya, rajin olahraga dan punya waktu istirahat secara regular terbukti lebih baik dalam menyelesaikan pekerjaan mereka. Sebaliknya, buruknya pengaturan jadwal kerja (misalnya “malas” atau memang “tidak punya waktu” untuk makan siang di luar kantor dan jarang istirahat) terbukti menurunkan produktivitas.
“Karyawan terutama pada level manajer memerlukan lebih banyak energi untuk bisa produktif, sehingga perlu dicari langkah-langkah untuk meningkatkan tingkat energi mereka,” ujar Direktur Talent Management pada Chiumento Dr Andrew Hill yang menuliskan laporan hasil penelitian tersebut.
“Ketika meeting dan email telah menjadi bagian tak terpisahkan dari budaya bisnis kita, temuan survei ini memperlihatkan bahwa kita perlu menyadari berapa banyak waktu dan energi yang tersita oleh kedua hal itu. Kita harus mengelola keduanya agar tidak terlalu menguras tenaga kita,” tambah dia.
Survei menemukan bahwa hal-hal sederhana, seperti ucapan “terima kasih” dari atasan cukup ampuh untuk “mengembalikan” semangat kerja karyawan yang babak-belur. Intinya, karyawan harus senantiasa merasa dihargai oleh rekan sekerja dan mendapat pengakuan atas setiap hasil kerja mereka agar “keterikatan” dan produktivitas terjaga.
“Dengan besarnya manfaat dari karyawan yang produktif terhadap kelangsungan bisnis, HR berperan penting untuk membantu karyawan menyadari pengaruh dari pilihan-pilihan gaya hidup terhadap pekerjaan, dan membantu manajer mengembangkan budaya menghargai,” ujar Hill.

Tags: