Masih Banyak Kendala untuk Terapkan Balance Scorecard di Indonesia

Sebagai sebuah sistem manajemen perusahaan yang tergolong “baru ditemukan”, balance scorecard telah mendapat apresiasi yang cukup tinggi di perusahaan-perusahaan besar di Indonesia. Dari perusahaan industri, non-industri hingga pemerintah banyak yang telah menerapkan sistem tersebut meskipun secara umum diakui, kendalanya masih cukup besar.

“Masing-masing perusahaan pada dasarnya sudah punya sistem manajemen sendiri-sendiri, dan dalam konteks Indonesia pengaruh-pengaruh hubungan keluarga, koneksi itu masih kental dan menjadi hambatan bagi usaha untuk menerapkan balance scorecard,” demikian antara lain diungkapkan oleh Head of Human Resource Auto 2000 Alexandra A. Aprilina dalam acara Balance Scorecard Summit di Hotel Grand Melia, Jakarta, Selasa (12/9/06).

Masalah kendala memang menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam gelaran yang menampilkan petinggi-petinggi perusahaan yang telah menerapkan balance scorecard itu. Dalam bahasa yang lain, Vice President Quality&Performance PT Pembangkit Jawa Bali (PJB) Iwan Darusman misalnya, mengatakan bahwa kendala itu muncul karena menerapkan balance scorecard sama artinya dengan mengubah paradigma bekerja secara tradisional menjadi best practice.

Balance Scorecard (BSC) pada dasarnya merupakan sebuah sistem manajemen strategi dan implementasi yang terdiri dari peta strategi organisasi, lengkap dengan ukuran, target dan inisiatif strategisnya. Menurut CEO Hewlett Packard Indonesia Elisa Lumbantoruan yang telah menerapkan BSC di perusahaan multinasional tersebut, BSC menghendaki adanya parameter yang terukur sebagai bukti “kita telah melakukan leadership framework secara benar”.

Sebagai sebuah metode, BSC muncul pertama kali pada awal 1992, ditandai dengan publikasi Prof. Robert S Kaplan dan Dr. David P Norton berjudul The Balance Scorecard: Measures that Drive Performance di Majalah Harvard Business Review. Tulisan tersebut menarik perhatian publik, termasuk seorang eksekutif senior Mobil Oil yang secara antusias membagi ide itu kepada para koleganya. Ini menjad kisah awal dari implementasi BSC.

Balance Scorecard Summit yang digagas oleh Harian Bisnis Indonesia bekerja sama dengan Pelita Fikir (Pf) Indonesia dan Organisasi Transformasi Internasional (OTI) mencoba menjadi forum pembelajaran dan ajang berbagi mengenai praktik-praktik BSC. Selain tiga tokoh yang sudah disebutkan tadi, tampil pula sebagai pembicara Direktur Bank Indonesia (BI) Budi Mulya, Direktur Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Budi Ibrahim, dan konsultan bisnis dari Inggris James Creelman yang telah menulis 8 buku mengenai BSC.

Tak ketinggalan, seminar tersebut menampilkan Senior Advisor OTI Naresh Makhijani yang dikenal sebagai implementator BSC paling berpengalaman dan tersukses di Asia. Dijadwalkan tampil pula Menteri Negara BUMN Sugiharto dan CEO Telkom Arwin Rasyid namun keduanya batal hadir. Dengan tema “Total Alignment towards Excellent Performance”, Balance Scorecard Summit dijadwalkan digelar dua hari hingga Rabu (13/9/06).

Tags: ,