Manajer di Asia Lebih Siap Hadapi Krisis

Organisasi di kawasan Asia Pasifik lebih siap menghadapi situasi ekonomi sulit yang melanda dunia saat ini dibandingkan dengan organisasi di Amerika. Ketika banyak perusahaan di negeri adidaya tersebut memilih memangkas pekerjaan dan mengurangi karyawan, para pemimpin bisnis di Asia melakukan pendekatan yang lebih elegan.
Demikian hasil studi yang dilakukan oleh lembaga konsultansi Watson Wyatt. Dilaporkan, dalam menghadapi kesulitan ekonomi perusahaan di Asia lebih memilih untuk “membekukan” sementara aktivitas rekrutmen dan mencoba melakukan restrukturisasi bisnis mereka.

Ditemukan, lebih dari 9 dari 10 pemimpin bisnis (manajer ke atas) di Asia Pasifik mengaku telah memiliki rencana yang siap diimplementasikan untuk menghadapi krisis ekonomi, berbanding dengan hanya dua pertiga pada perusahaan di Amerika. Survei dilakukan atas 1300 pemimpin perusahaan, 400 di antaranya di Asia. Survei juga menemukan, di Eropa perusahaan-perusahaan juga tengah sibuk membuat perencanaan yang efektif, dengan 8 dari 10 mengaku telah siap menjalankannya.

“Menarik mencermati, bahwa ketika banyak orang akan membaningkan kondisi Asia Pasifik dengan Amerika, ditemukan bahwa pemimpin bisnis perusahaan di Asia tampaknya lebih memiliki pertahanan terhadap apa yang sedang terjadi,” ujar Direktur Strategi Reward pada Watson Wyatt Asia Pasifik Rachelle Arcebal.

Pilihan Utama

Lebih dari separo kaum pengusaha di Amerika mengatakan, PHK akan menjadi pilihan utama mereka untuk menghadapi “penyakit” ekonomi. Perusahaan-perusahaan di Asia, sebagai bandingannya, lebih memilih restrukturisasi organisasional dan meniadakan hiring sebagai dua pilihan utama mereka masing-masing disebutkan oleh 6 dari 10 responden. Adapun pilihan ketiga yang banyak disebut adalah mengurangi tingkat kenaikan gaji.

“Dengan tantangan attraction dan retention yang besar di Asia Pasifik, perusahaan-peruahaan secara alamiah aka mencari pilihan-pilihan lain sebelum membiarkan karyawan mereka pergi, khususnya dari jajaran top performer dan mereka yang menguasai skill penting dalam bisnis perusahaan,” papar Arcebal. “Kita belajar dari pengalaman krisis-krisis ekonomi sebelumnya, bahwa hanya perusahaan yang memiliki rencana aksi yang akan berhasil menempati posisi yang lebih baik ketika ekonomi telah pulih,” tambah Direktur Strategi Reward untuk Global pada Watson Wyatt Laura Sejen.

Ditegaskan, krisis ekonomi saat ini telah mempengaruhi perusahaan di seluruh dunia. Jika kondisi terus memburuk, Sejen berharap perusahaan-perusahaan mulai mengevaluasi tingkat-tingkat staffing mereka, serta program-program gaji dan keseluruhan struktur organisasi, untuk mulai melaksanakan rencana yang telah mereka tetapkan. Sebelumnya, awal pekan lalu, riset yang dilakukan oleh PricewaterhouseCoopers menemukan bahwa membuat keputusan-keputusan dan aksi-aksi ang berlebihan pada “gelombang” awal krisis bisa menjadi sebuah kesalahan. Dikatakan, pendekatan yang fleksibel atas pengelolaan karyawan akan lebih efektif.

Tags: