Manajemen Buruk, Karyawan Depresi

Kegagalan-kegagalan manajemen khususnya dalam men-support karyawan yang merasa tidak mampu menangani masalah merupakan bagian dari penyebab stres di tempat kerja. Dan, kebanyakan mereka yang stres karena pekerjaan cenderung berujung pada depresi.

Sebuah studi yang dilakukan atas lebih dari 24 ribu di Kanada menemukan bahwa hampir 5% karyawan mengalami depresi dalam satu tahun terakhir, dengan penyebab stres berat di tempat kerja yang penuh risiko.

Studi yang dilaporkan di Jurnal Kesehatan Masyarakat Amerika (AJHP) itu seolah menambah bukti yang dalam beberapa tahun belakangan telah ditemukan oleh para dokter, bahwa stres kerja yang kronis bisa mengakibatkan masalah-masalah kesehatan lainnya.

Masalah-masalah kesehatan tersebut antara lain tekanan darah tinggi dan penyakit jantung, serta depresi.

Lebih jauh dipaparkan, kurangnya dukungan dari kolega-kolega, teman sekantor dan, lebih penting lagi, para manajer kini dilihat sebagai faktor penting yang menimbulkan stres terkait beban kerja.

Salah satu kesulitan manajer di berbagai belahan dunia adalah membedakan, mana karyawan yang stres karena pekerjaan, dan mana yang stres karena masalah kehidupan pribadi atau rumah tangga.

Kesulitan lain terletak pada bagaimana seorang karyawan merespon masalah atau tekanan tertentu dari pekerjannya setiap orang punya cara yang berbeda-beda. Ada yang cenderung menyerah, ada yang terus berusaha.

Tapi, satu hal yang cukup jelas dari hasil penelitian tersebut, apa pun penyebabnya, dari mana pun datangnya, stres adalah sesuatu yang harus diatasi oleh pimpinan perusahaan, jika mereka tidak ingin melihat karyawan mereka terseret lebih jauh ke dalam penyakit-penyakit lain atau kondisi-kondisi yang lebih parah.

Penelitian yang dipimpin oleh asisten profesor psikiatri University of Rochester Medical School New York Dr Emma Robertson Blackmore tersebut juga menemukan, pria yang mengalami ketegangan tinggi pada pekerjaan cenderung lebih mudah terserang depresi dibandingkan dengan mereka yang skala ketegangan pekerjaannya rendah.

Dalam studi ini, “pekerjaan bertegangan tinggi” didefinisikan sebagai pekerjaan yang “menuntut” tapi orang yang mengerjakannya hanya memiliki sedikit kebebasan atau otoritas untuk mengambil keputusan.

Pada (karyawan) wanita, situasinya agak berbeda. Hanya satu dari komponen ketegangan kerja yakni minimnya otoritas mengambil keputusan yang menyebabkan depresi. Namun, salah satu faktor stres yakni, kurangnya support teman dan supervisor merupakan penyebab depresi baik pada pria maupun wanita.

Dr Robertson Blackmore menyerukan kepada para pimpinan bisnis untuk mengambil langkah-langkah pencegahan depresi. Para manajer yang peduli, misalnya, harus menjadi bagian dari tunjangan perawatan kesehatan perusahaan.

Karyawan yang memiliki akses pada “manajer yang peduli” umumnya lebih mampu mengatasi berbagai gangguan kesehatan yang disebabkan stres. Mereka juga lebih produktif dibandingkan dengan karyawan yang hanya menerima tunjangan perawatan kesehatan standar.

Tags: ,