Lulusan Psikologi Harus Lebih Pandai Menjual Diri

Kini banyak orang yang sukses menjual produk yang seharusnya dijual oleh para psikolog. Misalnya, Ary Ginanjar yang sukses menjual ESQ, Romy Rafael yang menjual hipnotis dan Mien Uno dengan sekolah kepribadiannya, menjadi tantangan bagi para lulusan psikologi agar bisa semakin pandai menjual ilmu mereka.

Demikian kesimpulan yang dapat ditarik dari acara gathering alumni Psikologi UI (ILUNI Psikologi) di Hotel Ambhara, Jakarta, Jumat (8/12/06) lalu. “Padahal tentu saja kita (lulusan psikologi) lebih kuat dalam hal ilmunya dibandingkan mereka,” kata Kasandra Putranto, psikolog yang menjadi pembicara pada acara yang diberi tajuk “How to sell Psychologyst” itu.

Acara tersebut dihadiri puluhan alumni psikologi UI yang sebagian besar bekerja di bidang HR (Human Resource) baik di perusahaan-perusahaan maupun membuka konsultan atau sekolah HR. Hal ini memang melukiskan kondisi lulusan psikologi pada umumnya, yang diakui mencapai 60% bekerja di bidang sumber daya manusia (SDM).

Kondisi seperti itu, menurut Kasandra, hanya terjadi di Indonesia, tidak di negara-negara lain. Di Amerika misalnya, yang bekerja di bidang HR bukan para psikolog, tapi sebagian besar dari lulusan manajemen.

“Mungkin banyak psikolog bekerja di bidang HR karena psikolog bisa melakukan tes psikologi. Jadi psikolog itu hanya dianggap sebagai tester,” ujar salah satu assosiate Psychological Practice, perusahaan yang memusatkan diri pada pelaksanaan tes dan konsultansi, yang juga pernah menjadi None Jakarta 1989 itu.

Psikotes vs Wawancara

Namun, pendapat Kasandra dibantah oleh beberapa alumni yang hadir, yang kebetulan bekerja di bidang SDM. Mereka antara lain dari Daimler Chrysler dan dari Sampoerna.
“Kami di Daimler Chrysler malah tidak pernah melakukan tes untuk seleksi. Sudah 12 tahun tidak pernah ada masalah tuh,” ujar Echie, bagian SDM di perusahaan automotif Jerman itu. Kebetulan orang Jerman memang tidak mempercayai alat tes, tambah Echie.

Hal yang sama diungkapkan oleh Kumala Chung, bagian HR di Sampoerna Strategic. Proses seleksi di Sampoerna dilakukan dengan wawancara dan referensi. Prinsip yang dianut adalah perilaku di masa lalu sebagai cara memprediksi perilaku saat ini dan masa yang akan datang.

Diakui, seperti terungkap dalam diskusi yang terjadi di tengah acara sharing tersebut, dalam beberapa perusahaan psikotes masih digunakan. Sebab, banyak hal yang tidak terukur apabila hanya menggunakan wawancara, misalnya apakah seseorang tahan stres atau tidak, cepat bosan atau tidak.

Dan, menurut Kumala, tidak masalah bila lulusan psikologi banyak yang bekerja di HRD. “Karena memang ilmu psikologi sangat terpakai dalam praktik HR. Hal ini karena HR berhubungan dengan perilaku manusia,” ujar dia.

Tags: