Lebih Dekat ke Karyawan, Kunci Bertahan di Era Ekonomi Sulit

Kenaikan harga BBM ada hikmahnya juga. Perusahaan jadi “kreatif” untuk melakukan penghematan. Misalnya, mengurangi bandwith internet dan membatasi penggunaannya untuk chatting. Hikmahnya di mana? Para bos jadi lebih dekat dengan bawahan karena lebih sering “turun ke bawah”.

“Turun ke bawah” atau bahasa kerennya management by walking around (MBWA) dirasakan kembali arti pentingnya saat ini, ketika laju pertumbuhan ekomoni berjalan lambat dan situasi secara umum jadi serba sulit. Jika tadi dikatakan “dirasakan kembali arti pentingnya”, itu karena teknik tersebut sebenarnya sudah sejak lama diakui efektivitasnya.

Menurut ClearRock, sebuah perusahaan di Amerika yang bergerak di bidang executive coaching, belum pernah MBWA sepenting saat ini untuk meningkatkan produktivitas karyawan. Dalam situasi ekonomi yang sulit, nilai dari MBWA bahkan menyentuh ke isu survival.

Konsep MBWA pertama kali diperkenalkan pada 1940-an oleh Bill Hewlett dan David Packard, pendiri perusahaan Hewlett-Packard. Teknik ini populer terutama pada 1980-an ketika diusung kembali oleh buku berjudul In Search of Excellence karya Thomas Peters dan Robert Waterman Jr.

“Seiring dengan berkembangnya teknologi komunikasi elektronik seperti email dan intranet perusahaan, dan munculnya teknik-teknik baru dalam manajemen, MBWA pun lambat-laun ditinggalkan dan terlupakan,” kenang Pengelola-Mitra pada ClearRock Annie Stevens.

Menurut Annie, inilah saatnya bagi bisnis untuk menerapkan kembali praktik tersebut.
“Saat ini para eksekutif mengelola bawahan dengan email, memo, meeting sehingga nyaris tak pernah keluar ruangan untuk jalan-jalan di antara meja-meja karyawan dan berbicara dengan mereka. Sehingga banyak perusahaan kehilangan manfaatan dari kedekatan langsung antara atasan dengan anak buah,” tutur Annie.

Tags: