Layanan Dasar HR Kunci Kepuasan Karyawan

Mitra bisnis sih mitra bisnis, tapi jangan lupa dengan layanan yang (lebih) mendasar dong. Begitulah kira-kira keluhan kebanyakan karyawan atas departemen HR di perusahaan tempat mereka bekerja, seperti tampak pada hasil sebuah studi terbaru yang dilakukan oleh The Institute for Employment Studies (IES), Inggris. Laporan hasil penelitian bertajuk “What Customers Want from HR” tersebut menemukan bahwa karyawan prihatin dengan HRD mereka dalam memberikan layanan-layanan mendasar terhadap mereka sebagai customer.

Laporan IES mengungkapkan bahwa karyawan menginginkan kemudahan dalam berhubungan dengan “orang yang nyata” dalam HRD –dan bukannya melalui misalnya email. Mereka juga membutuhkan HRD yang dengan cepat merespon dan secara konsisten concern terhadap masalah-masalah karyawan. Peneliti pada IES Wendy Hirsh, di hadapan peserta konferensi tahunan Chartered Institute of Personnel and Development (CIPD) mengatakan, karyawan sebagai customer HRD memerlukan orang-orang HR yang  proaktif dan responsif agar karyawan mendapatkan hak-haknya yang mendasar.

“Penting bagi HRD untuk tidak hanya mengetahui apa yang telah didapat oleh customer, tapi juga apa yang sebenarnya mereka inginkan,” ujar dia. Berbicara pada forum yang sama, Direktur Pelatihan dan Asistensi Karyawan pada East Sussex County Council Leatham Green sepakat bahwa HR perlu memasarkan diri lebih baik untuk menarik perhatian karyawan pada semua tingkatan.

“Persepsi itu di atas segalanya dalam hal, apa yang kita berikan. Kita harus menyadari bahwa ketika segala sesuatunya salah, itu selalu karena kesalahan kita,” ujar dia. Dengan kata lain, Green menyarankan, orang HR jangan hanya mendengarkan customer ketika ada masalah atau kesalahan. Lalu, bagaimana dengan konsep “HR harus menjadi mitra strategis bagi bisnis”? Apakah membicarakan kembali tentang “layanan HR yang mendasar” bukan berarti suatu kemunduran?

Menurut Partner HR pada Sainsbury Supermarket Michael Spears, orang HR bisa berbuat banyak untuk memastikan apakah pihaknya telah cukup strategis (atau belum). Tapi, ketika HR sudah sampai pada taraf itu, logikanya menurut Spears, customer service bukanlah konsep yang sulit. “HR terlalu sibuk dan tidak benar-benar ada di sana dan menunjukkan apa lagi yang bisa kita lakukan,” tambah dia.

Tags: ,