Laki-laki Hambat Motivasi Perempuan di Tempat Kerja

Perempuan kurang ambisius dan kurang termotivasi dibandingkan dengan laki-laki. Kedua jenis kelamin juga memiliki prioritas-prioritas yang sangat berbeda ketika memasuki dunia kerja. Sebuah riset terbaru menghasilan temuan yang kontroversial: semua itu karena kesalahan laki-laki.
Sebuah studi yang dilakukan lembaga konsultan manajemen Hay Group menemukan perbedaan yang signifikan dalam tingkat motivasi dan ambisi antara laki-laki dan perempuan. Perbedaan itu secara fundamental juga terdapat dalam apa yang menggerakkan keduanya di tempat kerja.
Hampir tiga perempat laki-laki menggambarkan diri mereka lebih termotivasi dalam bekerja, lebih tinggi dibandingkan dengan perempuan. Lebih dari separo juga mendeskripsikan diri mereka sebagai ambisius, berbanding dengan 4 dari 10 perempuan.
Laki-laki juga jauh lebih cenderung melakukan pekerjaan idaman mereka ketimbang perempuan, dengan dua pertiga laki-laki menyatakan bahwa pekerjaan mereka sudah sesuai dengan keterampilan dan kemampuan mereka, berbanding dengan perempuan yang hanya dua dari lima.
Perempuan, bagaimana pun, percaya bahwa mereka akan lebih produktif jika mengerjakan pekerjaan yang mereka cintai dan mendapatkan pelatihan yang lebih baik.
Direktur Hay Group Emmanuel Gobillot mengatakan, “Tempat kerja memang sudah bukan lagi hak istimewa laki-laki, tapi warisan dominasi laki-laki di tempat kerja mungkin mempengaruhi prospek-prospek perempuan.”
“Riset kami mengisyaraktakn bahwa peran-peran kerja yang kita ciptakan, nilai-nilai yang kita berikan dan pelatihan yang kita sediakan masih gagal untuk memotivasi perempuan untuk mencapai derajat yang sama dengan laki-laki,” tambah dia.
Ketika kerja yang menantang dan menarik menempati urutan teratas daftar motivator di tempat kerja untuk kedua jenis kelamin, dengan gaji hanya di urutan keempat, riset tersebut menggali perbedaan-perbedaan fundamental antara laki-laki dan perempuan, di mana faktor-faktor penggerak di tempat kerja diperhatikan.
Keseimbangan antara kerja dan hidup dan kualitas hubungan kerja merupakan penentu-penentu kunci kepuasan kerja untuk perempuan. Mereka 62% lebih cenderung untuk memberi nilai hubungan dibandingkan laki-laki yang menempatkan hal itu pada urutan keenam di antara faktor-faktor pemotivasi.
Laki-laki mengunggulkan kuasa untuk membuat keputusan dan otonomi personal sebagai penggerak utama dalam bekerja, setelah tantangan dan pekerjaan yang menarik.
“Apa yang kita perlukan di tempat kerja bukan hanya perhatian pada pencapaian dan kuasa, tapi juga hasil dari koalisi-koalisi dalam upaya menyelesaikan pekerjaan. Dengan gagal memotivasi perempuan, pengusaha terhalangi untuk memahami apa yang paling dibutuhkan mereka,” ujar Gobillot.
“Para pemimpin bisnis harus memastikan bahwa mereka menciptakan sebuah budaya tempat kerja yang memotivasi seluruh karyawan –atau membayar ongkos dalam produktivitas,” simpul dia.

Tags: