Krisis Talent Sama Gawatnya dengan Kredit Macet

Kombinasi antara populasi tenaga kerja yang menua di Barat dan intensitas permintaan terhadap tenaga kerja terlatih di negara-negara berkembang telah melahirkan krisis talent pada tingkat global. Ditambah dengan krisis di sektor finansial, krisis talent dikhawatirkan akan mempengaruhi kemampuan perusahaan untuk berkembang.
Survei atas 5000 orang dari kalangan manajer dan eksekutif yang dilakukan Boston Consulting Group (BCG) dan World Federation of Personnel Management Associations yang berpusat di Boston, AS menemukan bahwa mengelola dan meretensi talent merupakan tantangan terbesar para profesional HR dan manajer di seluruh dunia.
Sehingga, untuk ke depannya, perusahaan-perusahaan akan lebih cenderung untuk melihat rekrutmen sebagai isu global ketimbang aktivitas yang dikelola dalam lingkup negara per negara.
Perhatian besar juga akan tertuju pada pencarian talent di seluruh dunia, dengan perusahaan-perusahaan akan memindahkan operasi-operasi mereka ke negara (lain) yang memiliki ketersediaan orang-orang terlatih. Inilah tren pertumbuhan HR ke depan hingga 2015.
Laporan survei tersebut mengingatkan, krisis talent akan menjadi sesuatu yang serius, sama gawatnya dengan isu kredit macet yang selama ini dituding sebagai biang keladi kegagalan perusahaan untuk mengembangkan bisnis.
Menurut hasil survei tersebut, mengelola talent akan tetap merupakan agenda utama para eksekutif di setiap negara dan industri, untuk alasan-alasan yang berkaitan dengan masa depan. Hal yang sama juga disebut sebagai tantangan terpenting HR di 9 dari 17 negara yang disurvei termasuk AS, Australia, Singapura, Jepang dan Inggris.
“Mungkin merekrut dan meretensi karyawan yang masuk dalam kategori talent akan menjadi lebih sulit dibandingkan dengan menumbuhkan uang di IPO,” ujar partner pada BCG Rainer Strack yang menuliskan laporan hasil penelitian tersebut.
“Di Barat, dunia ketenagakerjaan sekarang abu-abu, sementara di negara-negara berkembang, perusahaan mengalami kehausan akan karyawan terlatih. Menciptakan SDM yang unggul akan membantu perusahaan meraih keungguan kompetitif,” tambah dia.
Penasihat Internasional pada Chartered Institute of Personnel and Development, Inggris Frances Wilson menambahkan, kelangkaan talent dalam tingkat global terus membayangi, bahkan dalam situasi ekonomi yang tidak menentu saat ini.
“Perusahaan-perusahaan harus mengambil langkah dari sekarang jika mereka berharap bisa mengatasi kelangkaan tersebut. Antara lain dengan mencarinya dari berbagai tempat di seluruh penjuru dunia,” ujar dia.

Tags: