Krisis Global, Stres Karyawan Meningkat

Terusiknya perasaan aman terhadap pekerjaan telah memicu meningkatnya stres, kekhawatiran dan insomnia di kalangan karyawan di berbagai belahan dunia belakangan ini. Penyebabnya, apalagi kalau bukan krisis keuangan global yang berdampak pada dunia usaha.
Di Amerika dilaporkan, 9 dari 10 karyawan menderita susah tidur akibat khawatir pada kondisi keuangan. Demikian hasil survei yang dilakukan oleh ComPsych Corporation, perusahaan bidang kesehatan dan kesejahteraan yang berpusat di Chicago.
Meningkatnya stres di kalangan karyawan juga dipicu oleh kekhawatiran akan biaya hidup, seperti diakui oleh hampir sepertiga responden. Sementara, 29% karyawan mengungkapkan, mereka cemas tak bisa membayar tagihan kartu kredit.
Cerita yang sama datang dari Inggris, dimana sebuah survei yang dilakukan oleh lembaga asuransi kesehatan Bupa menemukan bahwa seperti karyawan kini sangat memikirkan pekerjaan mereka –dengan 2 dari 5 mengaku bertambah stres di tempat kerja sejak awal krisis finansial.
Bahkan, hampir seperempat karyawan mengaku kini menghabiskan waktu di kantor lebih lama untuk menghindari risiko kehilangan pekerjaan.
Pada saat yang sama, sebuah lembaga karitas di Inggris, Rethink mengingatkan bahwa meningkatnya stres di kalangan karyawan bisa berakibat pada gangguan kesehatan mental. Perusahaan asuransi kesehatan HSA dan AXA PPP menemukan bukti betapa banyak karyawan yang tetap masuk kerja dalam kondisi sakit karena takut kehilangan pekerjaan.
Kekhawatiran karyawan semacam itu memang beralasan, karena pada masa krisis sekarang ini, para manajer memberikan tekanan lebih besar pada karyawan untuk bekerjan keras.
Menurut CEO ComPsych Richard A Chaifetz, para manajer dan jajaran pimpinan perusahaan mestinya menyadari kesulitan yang dialami karyawan saat ini, dan menunjukkan kearifan mereka dalam mengelola anak buah. Dikatakan, perusahaan perlu menyadari dampak kondisi ketidakpastian yang sedang melanda, dan mengambil inisiatif untuk memberikan dukungan kepada karyawan.
Asistan Direktur Medis pada Bupa, Rebecca Small berpendapat, bahkan seandainya stres dan kekhawatiran karyawan tersebut tidak ada hubungannya dengan masalah kerja sekali pun, perusahaan tetap bertanggng jawab untuk membantu mengatasinya.
“Semua itu kembalinya ke perusahaan sendiri, jika memang ingin karyawannya kembali bekerja secara produktif,” kata dia.

Tags: