Krisis Demografi, Minim Strategi Retensi

Kendati dunia dibayangi krisis demografi yang diwarnai makin menurunnya jumlah orang usia kerja, ternyata tidak banyak perusahaan yang menyiapkan strategi khusus untuk mengatisipasinya.

Minimnya aksi di tengah kelangkaan tenaga kerja tersebut terbaca lewat sebuah riset baru yang dilakukan perusahaan layanan ketenagakerjaan Manpower Inc atas lebih dari 28 ribu pengusaha di 25 negara.

Riset antara lain menghasilkan temuan bahwa hanya 21% pengusaha yang telah mengimplementasikan strategi-strategi retensi untuk mempertahankan pekerja berusia 50 tahun atau lebih di perusahaan.

“Banyak pengusaha yang belum menyadari kebutuhan untuk mengantisipasi prosentase tenaga kerja mereka yang akan pensiun dalam 5 sampai 10 tahun ke depan dan membuat rencana untuk mengatasi potensi kehilangan kekayaan produktivitas dan intelektual yang akan terjadi ketika orang-orang itu pergi,” ujar CEO Manpower Jeffrey A. Joerres.

“Yang mengherankan, banyak organisasi masih melihat gelombang pensiun di masa yang akan datang sebagai kesempatan untuk menghemat biaya, Ini pandangan yang sempit dan berbahaya,” tambah dia mengingatkan.

Proaktif

Sejumlah negara, terutama Jepang dan Singapura, mencoba keluar dari kecenderungan semacam itu. Sekitar 9 dari 10 pengusaha di Jepang, dan separo dari prosentase itu di Singapura, menyatakan sedang berusaha proaktif untuk meretensi karyawan berumur.

Sebaliknya, hanya 6% pengusaha di Italia dan Spanyol yang mengaku telah memiliki strategi dalam isu yang sama.

“Jepang dan Singapura begitu fokus dalam mempertahankan karyawan yang menua karena didorong oleh peraturan pemerintah. Sedangkan negara-negara lain seperti Italia dan Spanyol tak memiliki peraturan serupa yang menginspirasi mereka untuk melakukan aksi yang sama,” ujar Joerres.

Bahkan di AS, lebih dari 78% pengusaha mengaku tidak didorong untuk peduli bahwa populasi tenaga kerja yang menua akan menjadi masalah dalam perekrutan dan retensi karyawan berbakat.

“Kelangkaan talent selalu menjadi pendorong utama bagi pengusaha untuk mengambil aksi dan secara proaktif mengikat segmen-segmen tenaga kerja yang cenderung dianggap under-employed atau under-valued, termasuk tenaga kerja berusia tua,” kata Joerres.

Menunggu

Joerres melihat, banyak pengusaha di seluruh dunia mengabaikan ramalan kependudukan dan fakta meningkatnya kelangkaan talent, dan lebih memilih untuk menunggu. “Mereka bisa terlambat untuk menghindari pengaruh pensiun skala besar terhadap hilangnya basis produktivitas dan pengetahuan di perusahaan mereka.”

Ditambahkan, masalah tersebut akan menjadi lebih buruk karena karyawan berumur yang merupakan talent perusahaan yang paling perlu dipertahankan adalah mereka yang memiliki fleksibilitas finansial untuk pensiun atau memilih kerja lain yang sesuai dengan kondisi usia mereka.

Itu artinya, perusahaan harus menyediakan kebijakan yang fleksibel untuk meng-attract dan me-retain pekerja berumur. Cara terbaik untuk itu, menurut Joerres, adalah dengan menyediakan pekerjaan yang mereka inginkan.

Dan, yang diinginkan oleh kelompok karyawan berumur tersebut tak lain fleksibilitas dan pekerjaan-pekerjaan paroh-waktu yang menarik. “Butuh waktu cukup lama bagi pengusaha untuk menentukan bagaimana menyediakan peran-peran paroh-waktu tersebut secara efektif,” tutup Joerres.

Tags: