Kompensasi Belum Efektif Tingkatkan Hasil Bisnis

Dalam era pasar tenaga kerja yang kompetitif sekarang ini, tak seorang pun meragukan pentingnya kompensasi untuk merebut hati talent. Namun, apakah sistem kompensasi tersebut kemudian memberikan dampak yang bagus bagi hasil-hasil bisnis, masih menjadi bahan perdebatan.

Sebuah perusahaan terkemuka dalam solusi talent management yang berpusat di AS Authoria mengumumkan hasil penelitian yang memperlihatkan adanya perbedaan antara apa yang diyakini kalangan profesional HR mengenai kompensasi dan pengaruh kompensasi terhadap hasil-hasil bisnis.

Profesional HR percaya bahwa kompensasi penting untuk mencapai tujuan-tujuan bisnis. Namun, assessment mereka terhadap seberapa besar pengaruh kompensasi tersebut terhadap hasil-hasil bisnis berbicara lain.

Para profesional HR mengatakan kompensasi “sangat penting” bagi tujuan-tujuan bisnis, terutama untuk meretensi karyawan-karyawan yang berkinerja paling bagus (66%), menarik karyawan berkualitas tinggi (56%) dan menyelaraskan kinerja individu dengan tujuan-tujuan perusahaan (49%).

Namun, ketika ditanya tentang efektivitaspenggunaan kompensasi dalam mencapai maksud-maksud tersebut, hanya sedikit yang mengatakan “sangat efektif”. Dengan rincian: 21% untuk ‘retaining key employees’, 17% untuk ‘attracting high-quality employees’, 15% untuk ‘aligning individual & corporate performance’.

Survei mengidentifikasi macam-macam hambatan yang membuat organisasi tak bisa maksimal memberdayakan program kompensasi untuk tujuan-tujuan yang lebih strategis. Yang paling banyak disebut oleh responden:

1. Kurangnya anggaran

2. Kurangnya perhatian para manajer bidang kompensasi terhadap taktik vs. strategi

3. Proses-proses HR yang tidak terintegrasi satu sama lain

4. Perangkat yang tidak memadai

Dalam praktik sehari-hari, kompensasi paling sering dikomunikasikan kepada karyawan dalam pernyataan-pernyataan tentang Total Reward (diakui oleh 56% responden), sedangkan yang paling jarang diperkenalkan adalah pay-for-performance (29%).
Sebagian besar responden juga mengungkapkan, bahwa perusahaan tempat mereka bekerja menempatkan kompensasi sebagai elemen utama strategi bisnis, dan menggunakan kompensasi untuk tujuan-tujuan taktis.

Direktur dan CEO Authoria Tod Loofbourrow mengatakan, “Mereka jelas frustrasi, tapi terus mengupayakan agar kompensasi berdampak pada tujuan-tujuan strategis perusahaan, seperti mengikat dan memotivasi top talent, atau menyelaraskan individu, kelompok dan kinerja organisasi.”

“Seiring kompetisi top talent yang makin sengit, para pimpinan bisnis harus lebih mengintegrasikan proses kompensasi mereka dengan fungsi-fungsi strategis lainnya dalam mengelola talent,” tambah dia menyimpulkan.

Tags: