Komitmen Karyawan Tak Bisa Dibeli

Banyak kalangan pimpinan perusahaan, sejauh ini, meyakini bahwa salah satu cara yang ampuh untuk mendorong komitmen dan kepuasan karyawan adalah dengan membayar mereka lebih besar. Namun, sebuah riset baru mengatakan bahwa langkah semacam itu sebenarnya justru bisa berakibat sebaliknya.

Dalam kenyataannya, karyawan yang lebih peduli dengan sukses material, status dan kekuasaan ketimbang, misalnya, membantu kolega atau mengembangkan kemampuan-kemampuan mereka sendiri cenderung lebih mmementingkan kehidupan (pribadi) mereka dan kurang memiliki komitmen terhadap organisasi.

Temuan tersebut berasal dari penelitian yang dilakukan Universitas Leuven di Belgia yang menguji (kembali) keyakinan-keyakinan paling umum seputar motivasi tenaga kerja.
Psikolog Maarten Vansteenkiste meriset 885 orang karyawan dari berbagai tingkatan tentang sikap-sikap mereka terhadap pekerjaan dan benefit apa yang paling penting bagi mereka, misalnya gaji yang bagus atau fasilitas libur yan lebih menyenangkan.

Penelitian yang dipublikasikan di Jurnal Occupational and Organizational Psychology tersebut menemukan bahwa sebagian karyawan melihat pekerjaan mereka sebagai kesempatan untuk melatih kompetensi dan berbagai keahlian dan usaha memberi kontribusi pada masyarakat.

Sementara, yang lain lebih mementingkan sukses keuangan, memiliki pengaruh terhadap orang lain dan mencapai jabatan yang prestisius dalam bidang pekerjaan mereka.
Dan, hasil riset memperlihatkan, mereka yang lebih termotivasi oleh reward materi, gaji yang lebih banyak atau pun status yang lebih tinggi memiliki perasaan-perasaan negatif tentang pekerjaan mereka.

Para karyawan yang lebih materialistis tersebut dilaporkan merasa kekurangan dan tidak puas dengan pekerjaan mereka, dan lebih cenderung mempertimbangkan untuk keluar dari perusahaan dibandingkan dengan karyawan yang tertarik dengan pengembangan dan pertumbuhan diri.

Menariknya lagi, perasaan-perasaan negatif tersebut juga berkaitan dengan kesehatan mental karyawan; mereka lebih mudah berkonflik di lingkungan kerja dan tidak puas dalam kehidupannya.

“Semangat yang hidup dalam banyak organisasi dewasa ini adalah memberi reward kepada karyawan dengan keuntungan-keuntungan materi. Tapi, penelitian ini memperlihatkan bahwa hal itu bisa kontra produktif baik bagi organisasi maupun karyawan sendiri,” Dr. Vansteenkiste mengingatkan.

Ditambahkan, meskipun keuntungan-keuntungan tersebut mungkin memang bisa menjadi motivator karyawan, namun kenyataannya lebih banyak berbicara sebaliknya. Menurut Vansteenkiste, hal itu karena berbagai reward berupa materi mengalihkan karyawan dari tujuan-tujuan lain yang kurang tampak.

“Mereka jadi kurang menyadari adanya motif-motif lain yang bersifat non-materi, yang penting untuk menjaga kesehatan mental seperti hubungan kerja yang baik dengan kolega, kemandirian dan kepuasan kerja,” ujar dia.

Tags: