Kinerja Pemerintahan SBY Bidang Tenaga Kerja Dinilai Buruk

Menjelang masa akhir pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, banyak pihak yang mulai membuat penilaian. Khusus dalam bidang tenaga kerja, prestasi SBY dinilai buruk. Sebuah survei menyimpulkan bahwa masyarakat tidak puas dengan penangangan masalah ketenagakerjaan.
Meskipun dalam sejumlah parameter kinerja pemerintahan SBY sebagai incumbent dinilai cukup memuaskan, namun dalam persoalan tenaga kerja dinilai dinilai buruk. Hal ini terungkap dalam rilis hasil survei Lingkaran Survei Indonesia (LSI) di Pisa Cafe Mahakam, Jakarta, Kamis (11/6/09).
Survei yang dilakukan atas 4.000 responden menunjukkan, 38 persen menilai buruk atau bahkan sangat buruk kinerja pemerintahan SBY dalam menangani masalah ketenagakerjaan. Hanya 24,5 persen yang menilai baik atau sangat baik.
Namun, Direktur Riset LSI Arman Salam menilai angka-angka tersebut tidak terlalu signifikan untuk menyimpulkan bahwa responden tidak puas dengan kinerja pemerintahan SBY secara keseluruhan.
Menurut Arman, enam parameter lainnya menunjukkan responden puas dengan kinerja pemerintahan SBY. Keenam parameter itu adalah penanganan masalah korupsi, masalah biaya pendidikan, masalah bencana alam, masalah kenaikan BBM, dan masalah kenaikan harga sembako.
Sementara itu, dalam kesempatan terpisah, SBY sebagai capres untuk pemilu presiden mendatang -Boediono menjanjikan bahwa setiap pertumbuhan ekonomi 1 persen bisa membuka lapangan pekerjaan baru untuk 300.000 orang.
Angota tim ekonomi SBY-Boediono, Syaif Hasan dalam acara Uji Publik Visi Ekonomi Capres di Hotel Sahid Jaya, Jakarta, Kamis (11/06/09) mengungkapkan, pertumbuhan ekonomi Indonesia sudah cukup signifikan karena bisa bertahan di 4,4 persen. “Sudah on the track, dan diharapkan 2014 bisa 7 persen dengan catatan ekonomi global yang sudah tidak berkontraksi.”
Dengan demikian, lanjut dia, proyeksi pertumbuhan ekonomi sebesar 7 persen hingga 2014 nanti akan bisa tercapai. Ditambahkan, tingkat kemiskinan yang sebesar 14,6 persen dan tingkat pengangguran 8,7 persen sampai dengan Mei 2009 lalu sudah menurun cukup signifikan di tengah kondisi krisis saat ini.

Tags: