Kiat Unilever Bangun Loyalitas Karyawan

Akhir Juli lalu PT Unilever Indonesia Tbk. mendapatkan penghargaan di tingkat Asia sebagai salah satu perusahaan idaman bagi karyawan. Hal ini disampaikan oleh Direktur Human Resources and Corporate Relations Unilever Indonesia, Josef Bataona, beberapa waktu lalu. “Banyak orang yang mau cari kerja, mereka bermimpi atau berharap bisa masuk ke Unilever. Nah, bagi mereka yang sudah bekerja di Unilever, bahkan mereka bisa bekerja lama, sudah semestinya bersyukur karena banyak orang di luar sana yang mengidamkan bisa bekerja dan menjadi bagian dari keluarga Unilever,” katanya memberi alasan.

Harus diakui, Unilever termasuk perusahaan yang mampu mempertahankan karyawannya bekerja dalam jangka waktu yang lama. Sebagai bukti, Agustus lalu Josef baru saja memberikan penghargaan masa kerja kepada 186 karyawan yang telah mengabdi selama 15 dan 25 tahun, serta mereka yang memasuki masa purna karya.
“Mereka terdiri dari 90 orang yang mencapai masa kerja 15 tahun, empat orang dengan masa kerja 25 tahun, dan 92 orang yang memasuki masa pensiun,” ujarnya menyebutkan. Ditambahkan Josef, mereka yang memasuki usia pensiun rata-rata masa pengabdiannya 31 tahun. Bahkan, salah seorang dari mereka yang akan pensiun tahun ini, ada yang mencapai masa kerja 36 tahun.

Mengenai bentuk penghargaannya, Josef mengungkapkan, selain uang, perusahaan juga memberikan cincin emas dan piagam kesetiaan kerja bagi mereka yang telah mengabdi selama 15 dan 25 tahun serta yang memasuki masa purna bakti. “Cincinnya bermata icon Unilever. Mereka yang mengabdi selama 15 tahun mendapat cincin emas seberat 8 gram, sedangkan yang mencapai 25 tahun mendapatkan cincin emas seberat 10 gram. Bagi mereka yang memasuki masa pensiun mendapat sepasang cincin, yang satu untuk pasangannya,” Josef memaparkan. Di samping itu, karyawan yang pensiun juga mendapatkan seragam batik dan plakat penghargaan yang ditandatangani Josef sebagai wakil dari pimpinan perusahaan.

Hubungan yang Harmonis

Meski terdengar klise, hubungan yang harmonis antara manajemen dan karyawan akan mampu menciptakan suasana kerja yang nyaman. Di samping itu, harmonisasi dalam hubungan industrial dapat menjadi pelekat bagi karyawan untuk bertahan di suatu perusahaan. Di tahapan ini, menurut Josef, pekerjaan tidak lagi dipandang sebagai beban, melainkan bagian dari panggilan hidup karyawan. Dengan cara seperti itu, ia yakin, para talent akan tetap tinggal di perusahaan.

“Mungkin manajemen tidak perlu lagi memaksa untuk mengikat para talent agar tetap tinggal di perusahaan, karena dengan melakukan program pemberian penghargaan masa kerja, mereka akan berpikir bahwa perusahaan ini sesuai dengan keinginannya, yakni memberikan nilai tambah dalam kehidupan karyawan,” Josef memastikan.

Selain apresiasi dari perusahaan, hubungan atasan dan bawahan yang baik juga menjadi kunci bertahan atau tidaknya seseorang di perusahaan. Salah satu penelitian terbesar yang dilakukan oleh Gallup Organization memperlihatkan bahwa alasan terkuat seseorang untuk keluar dari perusahaan adalah ketidakcocokan pada atasannya.

Survei yang melibatkan lebih dari satu juta karyawan dan delapan puluh ribu manajer ini dipublikasikan dalam sebuah buku berjudul First Break All the Rules.
Penemuannya adalah sebagai berikut, jika orang-orang yang bagus meninggalkan perusahaan, lihatlah atasan langsung/tertinggi di departemen mereka.

Lebih dari apa pun, seorang atasan menjadi alasan bagi karyawan untuk bertahan dan berkembang dalam organisasi. “Dia adalah alasan mengapa mereka berhenti, membawa pengetahuan, pengalaman, dan relasi bersama mereka. Biasanya langsung ke pesaing. Orang meninggalkan manajer/direktur Anda, bukan perusahaan,” tulis Marcus Buckingham dan Curt Hoffman, penulis buku First Break All the Rules.

Uniknya, bos yang buruk tampaknya selalu dialami oleh orang-orang yang bagus. Sebuah survei di majalah Fortune beberapa tahun lalu menemukan bahwa hampir 75 persen karyawan telah menderita di tangan atasan yang sulit. Dari semua penyebab stres di tempat kerja, bos yang buruk kemungkinan yang paling parah. Bahkan, hal ini langsung berdampak pada kesehatan emosional dan produktivitas karyawan.