Ketidakpuasan Global Merundung Kalangan Manajer

Ketidakpuasan melanda kalangan manajer tingkat menengah di berbagai belahan dunia, dengan sebagian besar merasa sangat tidak bahagia terhadap organisasi tempat mereka bekerja saat ini. Dan, hampir sepertiga menggambarkan perusahaan mereka sebagai “salah urus”.

Sebuah survei yang dilakukan Accenture atas 1.400 orang manajer menengah di sembilan negara yang tersebar di daratan Amerika Utara, Eropa dan Asia menemukan bahwa, rata-rata, hanya 4 dari sepuluh (39%) yang melukiskan diri mereka sebagai “benar-benar” atau “sangat” puas dengan bekerja di perusahaan mereka sekarang.

Terdapat sejumlah variasi di berbagai negara, dengan responden di AS, Spanyol, Jerman dan Australia umumnya memperlihatkan level kepuasan yang lebih tinggi dibandingkan dengan negara-negara lainnya. Kendati demikian, satu dari tiga responden di semua negara sedemikian jauh menggambarkan organisasi tempat kerja mereka saat ini sebagai “salah urus”.

Pekerjaan Baru

Ketidakpuasan para manajer menengah itu tercermin dari fakta bahwa hampir seperempat (23%) responden mengaku, saat ini mereka sedang mencari pekerjaan baru. Di samping itu, seperempat dari mereka mengatakan, motivasi utama mereka ingin pindah adalah minimnya prospek-prospek yang menguntungkan dalam pekerjaan mereka sekarang. Duapuluh dua persen menyebut adanya iming-iming kondisi yang lebih baik di tempat lain.

Tingkat-tingkat gaji muncul sebagai satu-satunya pemicu terbesar frustrasi, dengan lebih dari 44% mengeluhkan kompensasi yang tak mencukupi. Hampir sama besar, yakni 43% mengeluhkan kecilnya pengakuan untuk kerja yang telah mereka berikan. Keseimbangan hidup dan kerja menjadi momok utama lainnya, dengan 35% manajer putus asa dalam menyeimbangkan antara kerja dengan waktu untuk pribadi. Dengan prosentase yang sama, mereka juga mempersoalkan kejelasan jalur karir.

“Sebagian besar manajer menengah sangat peduli dengan masa depan organisasi mereka dan peran mereka di masa depan. Tapi, mereka ibaratnya kalangan yang telah membeku,” ujar Managing Director Accenture Peter Cheese.

“Keberhasilan mereka tergantung pada keyakinan bahwa eksekutif memahami concern mereka sebelum (mereka) melakukan aksi. Dalam perusahaan besar, manajer senior menentukan isu-isu utama melalui komunikasi yang jelas, mengelola tujuan-tujuan kinerja dan mengaitkannya dengan penghargaan dan progresi karir.”

Mengacungi Jempol

Kurang-lebih separo responden mengacungi jempol pada organisasi mereka dalam hal bagaimana mengelola kondisi-kondisi pekerjaan dan benefit. Tepatnya, 53% mengatakan, perusahaan mereka mengelola kondisi-kondisi pekerjaan, dan 48% mengatakan perusahaan mereka mengelola benefit, dengan cara yang “baik” atau “terbaik”. Namun, hanya sekitar sepertiga manajer merasa bahwa perusahaan mereka bagus atau sempurna dalam mengelola kompensasi, kesepakatan kerja yang fleksibel dan penyediaan prospek-prospek yang menguntungkan.

“Kalangan manajer senior belum memanfaatkan kesempatan untuk mengikat manajer tingkat menengah,” simpul Peter Cheese. “Rendahnya tingkat keterikatan manajer menengah akan mempengaruhi kinerja dan pencapaian tujuan-tujuan strategis. Dengan penekanan pada skill utama dan peningkatan talent sesuai perubahan dan pengaruh-pengaruh demografi, perusahaan perlu menyediakan keuntungan kompetitif yang berkelanjutan agar bisa tampil dengan kinerja tinggi di masa depan.”

Tags: