Kesenjangan Gaji Picu Turnover Tinggi

Gaji kalangan CEO yang tingginya selangit memicu turnover yang tinggi pada jajaran manajer. Demikian menurut penelitian yang dilakukan oleh Direktur Pusat Riset dan Pengembangan kepemimpinan pada Stanford Graduate School of Business Charles O’Reilly.

Untuk keperluan studi tersebut, O’Reilly menganalisis data dari 120 perusahaan publik berskala besar. Data-data yang diteliti terentang dalam periode lima tahun, dan mencakup lima level manajer senior, dari vice president sampai general manager. Dia menemukan satu contoh perusahaan yang membayar CEO-nya 50% lebih tinggi dibandingkan gaji normatif dalam industri yang bersangkutan. Dan, perusahaan tersebut menggaji para general manager 50% di bawah harga pasar.

Dari perusahaan tersebut, O’Reilly menemukan, tingkat turnover di kalangan general manager 18% lebih tinggi dibandingkan perusahaan-perusahaan lain yang menggaji CEO-nya sesuai harga rata-rata di pasaran. “Orang sebenarnya sudah lama mencoba menerima alasan, mengapa para CEO dibayar sangat tinggi,” kata O’Reilly. “Yang luput dari perhatian orang adalah konsekuensi-konsekuensi dari keputusan yang salah –membayar (CEO) terlalu tinggi atau terlalu rendah,” sambung dia.

“Studi ini adalah bukti bahwa konsekuensi-konsekuensi itu ada. Menggaji CEO lebih tinggi dari harga pasar menyebabkan ekonomi biaya tinggi. Itu uang yang mestinya lebih baik digunakan untuk meningkatkan kesejahteraan karyawan. Gaji CEO yang melangit juga memicu turnover jabatan-jabatan di bawahnya.”O’Reilly menyarankan kepada jajaran direktur agar sebaiknya melihat gaji eksekutif sebagai masalah sosial, dan bukan semata-mata sebagai isu perusahaan dan pertimbangan ekonomi.

Tags: