Kerja “Smart” Tingkatkan Kinerja Bisnis

Ide tentang “working smarter”, dan bukannya “working harder” sudah sejak lama disukai oleh kaum profesional. Namun, seiring dengan dinamika bisnis global, kenyataannya, semakin hari karyawan dituntut untuk kian keras bekerja. Kini, saatnya “mengembalikan” semangat “smart working” karena konsep tersebut bisa meningkatkan hasil-hasil bisnis.
Riset yang dilakukan Chartered Institute of Personnel and Development (CIPD), Inggris menemukan bahwa lebih dari 9 dari 10 manajer dan karyawan percaya “smart working” bisa memberi dampak positif terhadap kinerja perusahaan.

Mereka setuju, mengubah pendekatan manajemen dari “komando dan kontrol” ke dalam pola pengelolaan lebih memberi ruang untuk kebebasan, fleksibilitas dan kerja sama merupakan jalan menuju sebuah tatanan tempat kerja yang modern dan lebih “consensual”. Hampir 9 dari 10 juga percaya bahwa bentuk-bentuk kerja baru menjadi semakin relevan bagi organisasi dibandingkan dengan pola-pola yang lama. Dan, hampir semua 97% yakin, mereka akan semakin menuju ke sana pada masa yang akan datang.
Namun, sayangnya, kenyataan di lapangan bicara lain. Faktanya, menurut kesimpulan hasil studi CIPD, “smart working” masih belum banyak dipraktikkan dalam perusahaan-perusahaan, dengan kehidupan kerja sebagian besar karyawan masih jauh dari ideal konsep “smart”.

Dikatakan, proses-proses job design tidak selaras dengan aspirasi untuk me-redesign organisasi, dengan mayoritas karyawan tidak yakin bahwa atasan mereka akan mendesain peran-peran yang membangkitkan konsep-konsep “smart working”. Penasihat Hubungan Karyawan pada CIPD Mike Emmott mengatakan, “Setiap orang tahu bahwa kerja bisa dikelola dengan lebih baik. Pekerjaan bisa didesain sedemikian rupa sehingga memaksimalkan motivasi individu dan efektivitas organisasi. Riset kami menunjukkan bahwa smart working adalah kuncinya.”

Tapi, Emmott mengingatkan, masih banyak yang harus dilakukan untuk memperjelas batasan mengenai “smart working” itu sendiri, dan sekaligus untuk mendorong perusahaan yang belum mempraktikkannya. “Smart working lebih dari sekedar mengimplementasikan jam kerja yang fleksibel atau menyempurnakan sistem-sistem IT. Smart working meliputi perubahan mendasar terhadap asumsi-asumsi yang membentuk hubungan kerjas,” tandas dia. “Pertama kali, organisasi harus memberi otonomi, pilihan dan kebebasan yang lebih besar kepada karyawan, dalam peran-peran kerja mereka,” saran Emmot.

Tags: