Kerja Jarak Jauh Menghambat Karir

Mengerjakan tugas-tugas kantor dari rumah sedang menjadi tren di luar negeri, terutama Amerika. Mungkin Anda bermimpi pola kerja seperti itu juga bisa diterapkan di Indonesia. Bekerja dari rumah, wow, siapa sih yang tidak ingin? Itu memang ide yang keren. Tapi, maukah Anda dicap sebagai orang yang tidak punya ambisi dan hanya mencari kebebasan?
Berbagai survei di Amerika menunjukkan, para manajer ternyata masih meragukan keuntungan dari sistem kerja jarak jauh. Mereka percaya, bekerja dengan cara seperti itu memang menyenangkan. Tapi, menurut mereka, itu hanya akan menghambat laju peningkatan jenjang karir, di samping mempersulit manajemen dan komunikasi.
Belum lagi, pada saat yang sama, kebanyakan manajer senior menganggap bahwa bekerja dari rumah tak lebih dari usaha untuk mencari kebebasan pribadi.
Dan, umumnya kalangan eksekutif belum mengakui bahwa bekerja dari luar kantor bisa meningkatkan produktivitas.
Sebagai sebuah konsep, kerja jarak jauh makin kuat mewarnai kehidupan perusahaan di Amerika. Peningkatan tren tersebut dipicu oleh stres akibat perjalanan bolak-balik rumah-kantor dan pesatnya penggunaan komputer rumah.
Menurut survei, dua pertiga manajer HR percaya kerja dari rumah akan menjadi semakin lazim dalam waktu dua tahun ke depan. Dan, 9 dari 10 perusahaan di Amerika telah siap dengan kebijakan-kebijakan untuk menyambut datangnya masa itu.
Dua buah survei yang lain menyimpulkan bahwa kerja jarak jauh sebagai solusi jangka panjang yang efektif masih merupakan tantangan bagi kebanyakan manajer.
Sementara sebuah studi yang dilakukan lembaga rekrutmen Korn/Ferry International menemukan, hampir dua pertiga -atau 61%- eksekutif percaya, karyawan yang bekerja jarak jauh cenderung kurang bagus perkembangan karirnya dibandingkan dengan kolega mereka yang pulang-pergi ke kantor.
Pada saat yang sama, survei yang dilakukan organisasi kerja jarak jauh Telework Exchange, dan Federal Managers Association (FMA) menggarisbawahi sejumlah persoalan umum yang harus dihadapi para manajer ketika mengelola para pekerja jarak jauh.
Hampir sepertiga dari 214 orang manajer yang ditanya mengatakan, ketiadaaan kontak langsung merupakan tantangan utama bagi mereka. Kekhawatiran tidak bisa mengontrol karyawan dan produktivitasnya adalah masalah krusial lain yang mereka rasakan.
Hampir dua pertiga (manajer) mengaku bahwa mereka menghadapi kesalahpahaman ketika berkomunikasi dengan anak buah melalui email atau telepon.
“Studi ini menunjukkan adanya ketidakcocokkan antara persepsi tentang kerja jarak jauh dan prakteknya di lapangan,” ujar Presiden Nasional FMA Darryl Perkinson. “Para manajer perlu menemukan keseimbangan antara hasil kinerja dengan supervisi karyawan agar perusahaan bisa mengambil keuntungan dari kerja jarak jauh,” tambah dia.

Tags: