Kembali ke Fitrah, Pelajaran Penting dari Stephen R. Covey

Halal bi halal dunamis

Masih segar dalam ingatan, berita mengejutkan datang dari penulis best seller “The 7 Habits of Highly Effective People”, Steven R. Covey, yang mengalami kecelakaan jatuh dari sepeda pada 19 April silam di jalan yang curam di kaki Bukit Provo, Utah, sekitar 45 kilometer sebelah selatan Salt Lake City. Akibat kecelakaan tersebut, Covey mengalami pendarahan otak. Dan setelah dirawat hampir tiga bulan di sebuah rumah sakit di Idaho Falls, Idaho, Covey meninggal pada Senin, 16 Juli waktu setempat.

“Covey meninggal dalam usia 80 tahun kurang 3 bulan,” ujar Nugroho Supangat, partner of Dunamis Organization dalam sambutan di acara “Remembering Dr. Stephen R. Covey, Friends Gathering” yang berlangsung semalam, Selasa (11/9/2012) di Jakarta. Nugroho mengenang Covey sebagai sosok yang humble dan senang berbagi. Ia pun bercerita, kesan mendalam didapat ketika ia berkunjung ke Amerika Serikat dan ingin sekali melihat pertandingan bola basket. “Waktu itu semua tiket sudah sold-out, tidak disangka saya malah bisa duduk di kursi VIP. Saya baru tahu kalau itu ternyata atas bantuan Covey,” kenangnya.

Sementara itu buat Prof. Dr. Komaruddin Hidayat, Rektor Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah-Jakarta, pemikian Covey bisa diterima masyarakat luas mengingat era yang kini sudah bergeser ke feminisme. “Feminim di sini bukan merujuk kepada gender, tapi lebih kepada pemikiran yang soft dan kembali kepada fitrah manusia. Kita sudah melewati masa-masa maskulin yang ditandai dengan kekerasan dan peperangan,” papar Komaruddin.

Komaruddin menjelaskan bahwa pemikiran Covey yang fitrah ini ditunjukkan ke dalam bahasa-bahasa yang universal. “Ciri-ciri fitrah manusia itu adalah menyuarakan kebenaran. Covey juga mengingatkan kita atau membangkitkan perasaaan bahwa manusia itu senang kepada yang baik-baik. Kemudian kefitrahan yang juga disentuh oleh Covey adalah sesuatu yang indah-indah. Saya melihat apa yang disuguhkan oleh Covey itu, tidak hanya menyentuh hal-hal yang logic tapi juga penuh dengan estetika. Dan terakhir Covey mengingatkan bahwa fitrah manusia itu senang dengan kedamaian,” imbuhnya.

Kang Komar, begitu ia juga biasa disapa, menambahkan kalau kita melempar batu di kolam maka akan timbul riak-riak. Ia menambahkan, “Namun kalau yang dilempar adalah gagasan atau pemikiran maka dampaknya bisa sangat luar biasa untuk kemudian dijadikan semacam sinergi-sinergi. Dari membaca buku-buku dan gagasan Covey, bagi saya telah mendatangkan inspirasi, di mana saya bisa tuangkan dalam modul-modul di workshop, atau pun salah satunya menjadi sumber ide dalam saya menuliskan buku tentang psikologi kematian, mengubah ketakutan menjadi optimisme, dan buku ini sudah naik 20 kali cetak ulang.”

Kata kuncinya, lanjut Komaruddin, kematian itu sama dengan pulang. Ia menyebutkan, tidak banyak peristiwa psikologis yang dihadapi oleh manusia yang begitu menggairahkan selain pulang. “Di antara hadirin di sini, saya yakin kalau terlalu lama ia pasti gelisah. Contoh lain, tiket mudik kemarin sudah habis jauh-jauh hari. Waktu kita sekolah dulu, begitu gembira kalau mendapati pengumuman pulang lebih cepat. Esensinya pulang akan ketemu dengan orang yang kita cintai, dan mati pun juga demikian karena kita akan segera ketemu dengan Yang Maha Kasih,” ujarnya.

Pelajaran penting dalam mengenang Stephen R. Covey ini, tutur Komaruddin, “Pertama, saya melihat bahwa Covey telah memberikan arahan bahwa hidup itu harus dirayakan. Yang kedua, meninggal itu adalah wisuda, kalau dalam buku saya disebut sebagai masa panen. Untuk itu hidup itu sangat sayang kalau diisi dengan yang kotor-kotor, ia harus diisi dengan yang serba positif, serta saling berbagi. Ada tiga kata yang saya ingat dari Covey dan saya pegang, yakni belajar, mengajar dan berkarya.”

Sementara itu interaksi pemikiran Covey juga dirasakan oleh Mahdi Syahbuddin, HR Director Bank BTPN, dan Josef Bataona, HR Director Bank Danamon yang tadi malam berkesempatan sharing sebagai narasumber. Bagi Mahdi karirnya yang sekarang ini, diakui terinspirasi dari pemikiran fitrah Covey. Sedangkan bagi Josef, Covey mengajarkan untuk selalu membuat keseimbangan hidup antara keluarga, profesional, sosial, pengembangan diri. “Dan yang penting kita harus senantiasa bersyukur, berbagi dan berterima kasih,” imbuh Josef. (*/@erkoes)

Tags: , ,