Kejujuran, Kunci Talent Engagement di Industri Rokok

Rokok merupakan produk yang kontroversial. Banyak orang membenci sekaligus mencintai. Oleh karenanya, salah satu tantangan terberat yang harus dihadapai perusahaan rokok adalah meng-engage karyawan di tengah berbagai pandangan miring mengenai produk yang mengganggu kesehatan tersebut.

“Jujur di depan, itu yang kami lakukan,” ujar Direktur HR PT HM Sampoerna Yos Ginting dalam kesempatan berbicara di Indonesia Business Executive Forum yang digelar oleh Assessment Indonesia di Hotel Shangri La, Jakarta, akhir pekan lalu. “Sekarang zaman etika, zaman value. Kami sadar produk kami kontroversial, tapi legal dan menyerap banyak tenaga kerja, maka kejujuran dan keterbukaan yang kami kembangkan sejak awal untuk mengikat karyawan,” papar dia.

Kejujuran dan keterbukaan itu penting, sebab, Yos menekankan, industri rokok membutuhkan etika yang tinggi dalam berbagai segi, dari produksi hingga pemasaran. “Dan, menjadi karyawan Sampoerna juga tidak harus merokok. Saya sendiri tidak merokok,” tambah dia.Lebih jauh, dalam kaitan dengan tema acara tersebut, Yos bicara secara umum mengenai “connecting talent into business result, mapping and developing talent effectively”. Menurut dia, banyak orang HR di Indonesia yang terlena oleh jargon-jargon asing.

“Mestinya tidak perlu mencari contoh yang jauh-jauh. Tengok saja tetangga dekat. Sesama orang HR mestinya saling mengenal, mampir, berkomunikasi, saling mengintip praktik masing-masing, belajar bersama,” tutur Yos seraya menunjuk pembicara lain, Direktur HR PT Unilever Indonesia Josef Bataona yang pernah berkunjung ke Sampoerna. Selain dua praktisi HR dari dua perusahaan ternama itu, tampil pula sebagai narasumber dalam forum tersebut Direktur Pengelola Lembaga Manajemen Universitas Indonesia Budi W. Soetjipto dan Mantan Presiden Direktur IBM Indonesia Jonny P. Soebandono.

Tags: ,