Ke Depan Makin Penting, HR Kita Lemah

Peran HR ke depan akan semakin penting dalam organisasi. Namun, sayangnya, pada kebanyakan perusahaan di Indonesia, HR lemah terutama dalam mencari titik-temu dan menyelaraskan antara strategi dengan budaya organisasi. Demikian diungkapkan oleh Direktur HR PT Telkom John Welly ketika tampil sebagai salah satu narasumber dalam Super HR Forum yang digelar oleh High Leap Consulting dan HR-Net di Hotel Menara Peninsula, Jakarta, Rabu (12/5/08).

John memaparkan, strategi perusahaan secara garis besar bisa dirumuskan dalam tiga aspek: how to delight customer, winning oever competition dan building company strenghts. Ketiganya bertujuan untuk menciptakan market share dan sustainable growth.
Sementara, lanjut dia, pada sisi lain perusahaan juga memiliki culture yang secara umum juga bisa digambarkan dalam tiag aspek: employee commitment, employee competence dan employee congruence. Ketiganya bertujuan untuk mewujudkan conducive workplace di samping juga cost effectiveness.

“Budaya perusahaan yang berhasil, akan melahirkan emotionally-engaged workforces, sedangkan strategi perusahaan yang berhasil, akan melahirkan performance-driven workforce dan keduanya saling berkaitan. Oleh karenanya strategi harus match dan align dengan culture,” tandas mantan CEO PT INTI tersebut. John mengingatkan, karyawan yang secara emosional engage akan meningkatkan kinerja perusahaan. Dan, culture yang dijalankan dengan baik bisa mendorong strategi mencapai hasilnya secara berlipat-ganda.
“Orang HR harus mulai dari culture ini, dengan dibantu oleh para manajer lini untuk implementasinya,” ujar dia.

Karakteristik Workforce Berubah

Membawakan presentasi bertajuk Arsitektur Baru Human Resources, John Welly banyak membahas tentang model-model manajemen HR yang berkembang di Barat, dari yang diajukan Harvard pada 19985 hingga “HR Champion”-nya Dave Ulrich pada 1997.
John mengatakan, satu hal yang perlu diingat oleh para praktisi dan pemimpin HR adalah berubahnya karakteristik workforce dari waktu ke waktu. “Ketika dulu saya masuk Telkom, pertimbangannya tak lain long life employement, tapi hal semacam itu sudah tak ada lagi di benak generasi sekarang,” ujar dia. “Perubahan itu tentu menuntut kita untuk menyesuaikan kebijakan-kebijakan HR dalam soal reward dan sebagainya,” tambah John.

Tags: