Kaum Profesional Semakin Kasual

Kalau Anda sempat bepergian ke kota-kota besar di berbagai negara, perhatikanlah, semakin jarang terlihat para pekerja kantoran yang berbusana formal pria berjas dan dasi sementara wanita berblazer. Mengapa busaha kerja yang formal semakin dirasa tidak perlu?

Jajak pendapat yang dilakukan atas 200 manajer senior oleh lembaga konsultan eksekutif Aziz Corporation di Inggris menemukan bahwa dewasa ini kurang dari seperempat pekerja yang merasa perlu mengenakan untuk pergi ke kantor. Survei yang sama empat tahun lalu menghasilkan angka lebih dari sepertiga. Kalangan pakar mode fesyen membenarkan adanya kecenderungan semacam itu. Bahkan, Perdana Menteri Jepang Yasuo Fukuda menanggalkan jas dan dasinya dan lebih suka mengenakan kemeja lengan pendek. Apakah tradisi kombinasi jas dan dasi telah ditinggalkan?

Bisa iya, bisa tidak, demikian menurut Direktur Pengelola perusahaan busana khusus de Baer, Dan Murray. Diprediksikan bahwa kondisi ekonomi global yang memburuk akan memperkuat tren tersebut. “Tendensi yang kami lihat pada klien kami, mereka lebih cerdas dan menerapkan pendekatan kasual dalam urusan busana (kerja),” ujar dia.
Lebih jauh Murray mengingatkan bahwa busana kerja merupakan faktor penting dalam pertarungan untuk mempertahankan dan merekrut tenaga kerja yang bagus.

“Perusahaan tentu ingin karyawannya merasa nyaman ketika bekerja. Bagi sebagian perusahaan, lebih penting karyawan mereka merasa nyaman, sehingga bisa bekerja secara produktif, ketimbang mewajibkan mereka memakai jas atau kemeja dan dasi,” papar dia.
Namun, Murray menyadari, bagi sebagian perusahaan yang lain, citra yang mereka tampilkan di hadapan publik juga tak kalah penting. Yang jelas, apa pun trennya, menurut Direktur Aziz Corporation Khalid Aziz, ketika busana kerja semakin kasual, tetap ada hal-hal yang perlu dipertimbangkan.

Survei menemukan, dua pertiga manajer menyukai “smart casual” sebagai busana kerja sehari-hari mereka. “Kasual bukan berarti mereka meminta perusahaan untuk mengizinkan mereka ke kantor mengenakan jins sobek dan kaos oblong. Sebagian besar karyawan tetap serius  dengan citra profesional mereka di tempat kerja dan memilih untuk berbusana secara smart,” tutur Aziz. Dan, persepsi bahwa smart itu identik dengan jas dan dasi sudah berlalu. “Jas hanya bagus untuk menghadiri pertemuan-pertemuan bisnis yang memang menuntut penampilan formal,” tambah dia.

Tags: