Kaum Pria juga Mengejar Keseimbangan Hidup dan Kerja

Kebutuhan akan keseimbangan antara kehidupan pribadi dan pekerjaan di kantor barangkali telah dianggap sebagai isu gender. Artinya, selama ini kebutuhan akan keseimbangan tersebut identik dengan karyawan dan kaum profesional berjenis kelamin perempuan. Sebuah penelitian terbaru menghasilkan temuan yang mengoreksi asumsi tersebut.

Lembaga perekrutan online Monster meneliti hampir 2000 orang dewasa di Amerika untuk mengetahui hal-hal umum dan perbedaan-perbedaan kunci yang melatari seseorang membuat keputusan dalam karirnya.

“Kami menemukan bahwa gaji, kesempatan untuk hidup dan kerja yang seimbang, serta benefit merupakan faktor pendorong utama ketika seseorang menerima tawaran kerja baru –tanpa membedakan gender,” ujar Chief Diversity Officer Monster Steve Pemberton,
Laporan berjudul “A Changing Landscape: The Effect of Age, Gender and Ethnicity on Career Decisions” itu juga menemukan bahwa perempuan cenderung memberi nilai yang tinggi pada kesemimbangan kerja dan hidup ketika mempertimbangkan tawaran kerja baru.

Empat dari 10 wanita berbanding dengan seperempat pada pria- akan berusaha mencari posisi baru jika tidak memiliki fleksibilitas jam kerja.  Namun, pada sisi lain, kaum pria kelihatannya juga berusaha keras untuk mendapatkan keseimbangan hidup dan kerja. Empat dari 10 pria memprotes jika atasan mereka tidak cukup memberikan fleksibilitas. Angka ini memang lebih kecil dibandingkan pada wanita (1 dari 3).

“Berdasar temuan kami, lebih banyak pwanita dibanding pria yang mengejar benefit seperti kerja jarak jauh dan hari kerja yang fleksibel selama proses seleksi kerja,” kata Pemberton.

“Tapi, ketika Anda melihat alasan mengapa para pekerja meninggalkan perusahaan mereka, keseimbangan hidup dan kerja merupakan faktor yang lebih besar bagi kaum pria. Bagi pengusaha, ini memberi pesan bahwa mempromosikan keseimbangan hidup dan kerja merupakan kunci untuk menarik dan mempertahankan karyawan, tanpa membedakan gender.”

Pemberton juga mengingatkan para pengusaha untuk menyadari bahwa sebagian besar pekerja saat ini merupakan generasi “Baby Boomers” yang mewakili kalangan paling terlatih dan terdidik dalam pasar tenaga kerja. “Orang-orang dari generasi ini sedang menyiapkan masa pensiun. Pengusaha perlu memperhatikan asuransi kesehatan dan program pensiun yang kompetitif.”

Tags: