Karyawan Keluhkan Minimnya Komunikasi dari Manajemen Senior

Para karyawan mungkin memang banyak memiliki keluhan, tapi yang paling mengganjal di hati mereka adalah ketika bos tidak terbuka mengenai apa yang sedang terjadi di perusahaan. Opinion Research Corporation (ORC), berpusat di Princeton, New Jersey, AS dalam survei terbaru mereka menemukan, minimnya komunikasi dari manajemen senior tentang bisnis menduduki peringkat pertama (disebut oleh 17% dari 1.150 karyawan tetap maupun paroh-waktu yang disurvei) dalam daftar keluhan karyawan.

Permainan politik di kantor dan kurangnya kerjasama juga banyak dikeluhkan, masing-masing oleh 16% dan 15% responden, disusul kemudian: kebutuhan untuk menggunakan bahasa yang “secara politik benar” (9%). Yang cukup tak terduga, hanya 4% yang mengeluhkan soal pengawasan atas penggunaan email dan telepon kantor.

“Perlu ditekankan, faktor perbedaan usia sangat berpengaruh dalam hal ini,” tegas Direktur Employee Research Practice pada ORC Terry Reilly. “Minimnya komunikasi dari para manajer senior lebih banyak dikeluhkan oleh karyawan usia 45 tahun ke atas. Sedangkan mereka yang berusia antara 18-24 tahun lebih merasa kurang dalam hal kerjasama tim.”

Menurut Caroline Hawking dari Rothenberg International di New York, hal itu tidak mengherankan. Karyawan yang lebih muda, jelas dia, berkembang lewat proyek-proyek tim, sementara karyawan yang lebih tua, terutama dari generasi “baby boomer” tumbuh di dunia di mana “pengalaman kerja pertama adalah orang-orang yang memberi pengarahan langsung.”

Bukan Prioritas

“Jajaran manajer puncak tidak menjadikan komunikasi sebagai prioritas utama,” ujar Reilly. “Mereka tidak menyadari dampaknya terhadap moral dan produktivitas karyawan. Seandainya manajemen senior menyadari keterkaitan yang erat antara efek komunikasi dengan produktivitas karyawan, mereka akan melakukannnya lebih sering.”

Disarankan, terutama kepada jajaran eksekutif HR untuk beriventasi dalam pelatihan komunikasi bagi para manajer senior termasuk lecel CEO. Reilly juga menyebut penggunaan email sebagai salah satu faktor penyebab kegagalan atau minimnya komunikasi di kantor dewasa ini.

“Email, meskipun tentu saja mengandung banyak sisi positif, sangat bersifat satu dimensi. Satu arah, pasif dan tidak bisa menggantikan komunikasi tatap muka secara langsung.” ujar Reilly. “Kebanyakan manajemen atau supervisor sekarang membiarkan email menggantikan komunikasi tatap muka dan akibatnya, orang tidak memperoleh “cerita lengkapnya”,” tambah dia.

Kendati demikian, Caroline Hawking mengingatkan, mencari pihak yang salah di balik minimnya komunikasi justru bisa menimbulkan kesalahpahaman. Menurut dia, fokus manajer senior adalah mengembangkan strategi perusahaan dan proses bottom-line, dan pesan mereka dikomunikasikan ke bawah oleh manajer menengah, dan di situ letak kesulitannya.

“Di sinilah letak peran HR,” kata dia. “Manajer menengah memiliki tugas berat, bagaimana menyampaikan strategi itu hingga menjadi aksi. Mereka bisa mendekati HR untuk mengatakan, ini strategi kita setahun ke depan, bagaimana kita menyampaikannya kepada tim?”