Karyawan Eksis Punya Nilai Tambah

Edwin SA

Ruang social media adalah ruang publik tanpa batasan waktu dan tempat. Kehadiran social media membuat komunikasi semakin transparan dan apa adanya. Dampaknya, kini kita bisa menganalisa karakter seseorang dari profilnya di media sosial. Tidak terkecuali untuk karyawan, secara sadar maupun tidak sadar, kita selalu membawa brand perusahaan di pundak kita.

Demikian yang disampaikan Abang Edwin SA kepada PortalHR. “Jika kita bekerja di sebuah perusahaan maka otomatis apa yang kita share di social media akan bisa mempengaruhi pandangan masyarakat terhadap brand perusahaan tersebut,” ujarnya.

Namun bukan berarti karyawan harus memilah-milah apa saja yang mau disampaikan di social media. “Tidak ada ketentuan khusus di luar apa yang disepakati dengan perusahaan tentang apa saja yang boleh di-share di social media,” ujar Edwin.

Yang perlu diingat oleh karyawan adalah hal-hal yang bersifat rahasia yang tentunya tidak layak disebarkan di ruang publik. “Secara common sense ya tentunya ada hal-hal yang memang tidak bisa dilakukan di social media, misalnya men-share hal-hal yang sifatnya rahasia, seperti meeting internal, report-report yang memang ditujukan untuk konsumsi internal dan lain sebagainya,” tambah Edwin.

Di luar dari kebijakan itu, sebenarnya karyawan perlu eksis di social media. “Employee yang eksis di socmed itu tetap memiliki nilai tambah bagi perusahaan karena mereka bisa menjadi corong untuk menyuarakan hal-hal yang perlu didistribusikan keluar,” ujar Edwin.

Konsultan media sosial yang telah aktif sejak 1998 ini menekankan bahwa aktif di social media tetap perlu aturan. Kebebasan ngobrol di social media juga menuntut penggunanya untuk meningkatkan kemampuannya. “Eksis is good hanya eksis seperti apa, itu yang harus diatur lebih jauh,” ujar Edwin.

Banyak saluran social media yang kita tahu, semakin lama semakin tidak terhitung jumlahnya. Menurut Edwin ada baiknya kita mengetahui dulu channel mana yang sesuai dengan kebutuhan kita, walaupun saat ditanya di social media mana sebaiknya karyawan ber-eksis ria, ia menjawab Facebook. “Yang paling efektif tentunya yang memiliki “penduduk” terbanyak ya,” tutur Edwin.

Walau begitu, ia menjelaskan bahwa fungsi dan kegunaan masing-masing social media dapat kita maksimalkan. Seperti Facebook dan Google+ yang menekankan pada pertemanan, Twitter adalah microblog platform dan bersifat linear, sehingga lebih cepat dalam mendistribusikan message. Dan Linkedin adalah social network yang menfokuskan diri pada bisnis dan profesionalitas.

Kini keputusannya terletak di pundak kita, seberapa paham kita dengan kebutuhan yang kita perlukan dalam ber-social media. Yang jelas jangan sampai social media membuat reputasi kita jatuh di pasaran. “Socmed bisa digunakan untuk karyawan dengan tujuan membangun personal brand si karyawan tersebut, sehingga secara reputasi pun bisa terbangun juga,” pungkas Edwin. (*/@nurulmelisa)

Tags: ,