Karir Berbasis IT Peluang bagi Wanita

Perkembangan pesat teknologi informasi (IT) telah menumbuhkan banyak kompetensi baru, sekaligus membentangkan kesempatan-kesempatan karir baru yang menantang. Namun, ketersediaan SDM di bidang ini belum cukup memadai, lebih-lebih dari kaum wanita.

“Kalau bicara karir di bidang IT, kita langsung dihadang dengan persepsi umum bahwa itu dunia milik laki-laki,” ujar CEO APJI (Indonesian Internet Service Providers Association) Sylvia W Sumarlin dalam diskusi bertajuk “Dunia IT Milik Wanita Juga” di Gedung Informatics, Jakarta, Rabu (14/3/07).

Diskusi digelar oleh Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) Telematika bekerja sama dengan Automated Testing Indonesia (ATI) untuk memperingati Hari Wanita Internasional yang jatuh pada 8 Maret lalu. Menurut Sylvia, persepsi umum semacam itu harus ditantang dengan keyakinan pribadi bahwa siapa pun, tanpa membedakan gender, bisa membentuk eksistensinya sesuai dengan minat dan kemampuan.

“Seseorang berkarir di bidang IT mestinya ya bukan karena dia pria atau wanita, tapi karena memang memiliki alasan untuk meniti karir tersebut.” Alasan yang dimaksud, Sylvia merinci, bisa bermacam-macam. Dari minat, hobi dan gaya hidup, keuntungan ekonomi, masa depan yang menjanjikan dan kesempatan.

Selain hal-hal itu, dia juga melihat bahwa pertanyaan lainnya menyangkut kualifikasi.
“Menyangkut latar belakang pendidikan misalnya, banyak orang merasa tidak memiliki kualifikasi di bidang IT. Padahal kalau kita kembali ke definisi, yang namanya IT kan bukan hanya komputer dan program-program, melainkan banyak sekali karir yang berbasis IT tersebut,” papar Sylvia seraya menyebut telemarketing dan online educator sebagai contoh.

Di samping itu, Sylvia juga tak menutup mata bahwa masih banyak wanita yang mengaku atau merasa “gaptek” untuk berkarir di bidang IT. “Gaptek itu kan hanya mindset di kepala kita. Bagi saya, yang penting kita bisa menggunakan teknologi pada tingkat yang kita butuhkan, tidak perlu ikutan-ikutan orang lain.”

Kompetensi Baru

Dalam diskusi yang sama, Direktur Sistem Informasi, Perangkat Lunak dan Konten Departemen Komunikasi dan Informatika Lolly Amalia Abdullah memaparkan, sedikitnya ada 12 kompetensi yang sangat baru yang berbasis IT. Antara lain searching, collecting, creating (membuat web), communicating (email), buying-selling (jual-beli online) dan termasuk gaming.

Munculnya kompetensi-kompetensi baru berbasis IT tersebut, menurut Lolly telah mengggeser pola persaingan dalam dunia bisnis. “Kalau dulu nation vs nation, atau multinational corporate vs multinational corporate, sekarang individu vs individu atau SDM vs SDM.”

Ditambahkan, kompetensi-kompetensi baru tersebut semuanya berorientasi pada konten. Sehingga, Lolly yakin untuk ke depannya, unsur konten dalam teknologi informasi akan menjadi komoditas yang menjanjikan. “Kita kaya sekali akan bahan untuk konten, itu harus didokumentasikan, dituliskan,” ujar dia.

Lebih jauh Lolly mencoba memetakan, bahwa IT telah memberi kemudahan karena memungkinkan terjadinya lintas batas, perluasan pasar, peluang kerja dan usaha serta bekerja dari rumah dengan fasilitas komputer dan internet. Disebutkan, profesi bidang IT terus bertambah, hingga mencapai hampir 200 bidang kehalian.

“Ini peluang usaha yang sangat besar, termasuk tentu saja bagi wanita. Jadi, untuk karir jangan khawatir. Nggak harus jadi programer kalau memang tidak suka, tapi kenali minat dan kemauan, di mana jenjang karir yang ingin dicapai di bidang IT ini,” saran Lolly.

Tags: