Kapan Saat yang Tepat untuk Mengevaluasi Training?

Agar sebuah training berhasil dan efektif, diperlukan evaluasi. Semua tentu sudah tahu itu. Namun, banyak yang masih salah paham mengenai kapan saat yang tepat untuk melakukan evaluasi tersebut, dan siapa (saja) pihak yang harus terlibat dalam evaluasi training.
Banyak orang meyakini bahwa evaluasi training sudah barang tentu dilakukan setelah training selesai. Namun, menurut Managing Director ABusiness Consultants Mira G. Widagdo, evaluasi training semestinya dilakukan sebelum training, ketika training, dan tentu saja setelah training.
Lalu, siapa yang sebaiknya mengevaluasi? Menurut Mira, proses evaluasi training melibatkan tiga pihak, melibatkan tiga pihak, yaitu HR sebagai change facilitator dan program supporter, atasan langsung/manajemen dan peserta training itu sendiri sebagai program owner dan implementer.
“Atasan langsung harus dilibatkan dalam evaluasi training sebab ini berkaitan dengan business impact dan ROTI (Return on Training Investment),” ujar Mira dalam acara pelatihan tentang “Training Identification and Evaluation” yang digelar oleh Menara Kadin Learning Center di Menara Kadin Indonesia, Jakarta, 15 – 16 April 2009.
Bagaimana mengukur efektivitas training ketika training itu masih atau sedang berjalan?
Mira mengungkapkan, ada dua level pengukuran pada tahap ini. Pertama, mengevaluasi reaksi dari para peserta training. Yakni, mengukur tingkat kepuasan peserta terhadap pelaksanaan program training. Ini untuk mengetahui, apakah peserta menyukai program training tersebut, apakah menurut mereka program tersebut bermanfaat dan memenuhi harapan mereka.
“Pelaksanaan pengukuran pada level ini umumnya dilakukan dengan model pengisian evaluation sheet pada akhir program,” papar Mira.
Kedua, lanjut Mira, dengan melakukan tes terhadap peserta training untuk mengetahui apakah mereka telah mempelajari atau meresapi isi training yang diberikan. “Intinya, apakah dari tidak mengerti menjadi mengerti,” jelas dia.
Bagiaman cara mengukurnya? Salah satunya dengan membandingkan skor pre-test dan post-test. Mira menekankan, kuesioner untuk pre-test dan post-test harus mengacu pada tujuan pelatihan. “Metoda lainnya bisa juga dengan kuesioner feedback, berupa latihan atau tugas, demonstrasi atau performance, observasi dari fasilitator, maupun assessment yang dilakukan sesama peserta, atau dilakukan sendiri,” papar Mira.
Mira menandaskan, evaluasi setelah training baru bisa efektif jika eveluasi selama training berlangsung telah terlebih dulu dilakukan.

Tags: