Jumlah Pelamar Magang Via Online di Indonesia Masih Kecil

Tren magang di beberapa negara Eropa, khususnya Inggris sedang mengalami peningkatan. Sebuah survei yang dirilis lembaga NAS di Inggris menyebutkan bahwa terjadi peningkatan pelamar magang via online sekitar 41% dibandingkan tahun lalu. Namun di Indonesia, angka pelamar magang via online masih relatif kecil.

Kami mendapatkan data tersebut dari media online rekrutmen, Jobstreet. Jumlah lowongan untuk posisi magang (internship) hanya tersedia sekitar 117 lowongan. Hal itu sangat jauh dibandingkan jumlah total lowongan di website tersebut, yaitu sekitar 29.856 lowongan kerja.

Jobstreet mengaku angka ini mereka dapat dari kebutuhan perusahaan akan karyawan magang. Tentu hal ini tidak bisa menyimpulkan bahwa antusiasme mahasiswa untuk magang masih kecil. Karena menurut beberapa mahasiswa praktek kerja lapangan (PKL) atau magang merupakan prasyarat dalam penyusunan skripsi. Mereka malah mengaku kesulitan untuk menemukan tempat magang.

Sebagai pengajar, Dwi Ajeng Widarini, seorang dosen di Jakarta, mengaku perkembangan teknologi sebenarnya bisa dimanfaatkan oleh mahasiswa. “Itu (jalur online) akan memudahkan mahasiswa, terlebih saat ini juga ada social media yang memfasilitasi para calon pegawai atau magang untuk mempublikasikan CV dan rekomendasi yang dituliskan oleh orang lain,” terang Ajeng.

Dari sisi mahasiswa sarana komunikasi elektronik tentu memudahkan mereka dalam melamar pekerjaan. “Dengan pekembangan teknologi, kini kami tidak perlu jauh-jauh untuk mengirimkan surat ke perusahaan yang tertuju. Kami cukup mengirim email atau memposting melalui social media, diakui hal itu memudahkan kami sebagai mahasiswa,” ujar Alayli Rahmah, salah satu mahasiswa di sebuah perguruan tinggi swasta di Jakarta Selatan.

Sedikitnya lowongan magang menunjukkan perhatian praktisi HR terhadap kebutuhan magang dari mahasiswa masih kecil. Di sisi lain mahasiswa sebagai calon pekerja dan top talent membutuhkan wadah yang tepat untuk menyalurkan bakat dan skill mereka.

“Kita memang harus PKL agar bisa menyusun skripsi, namun selain itu dengan ‘bekerja’ terlebih dahulu, kita dapat memahami dan mengerti bagaimana praktek bekerja yang sesungguhnya,” ujar Alayli.

Selain itu melalui magang, mahasiswa dapat mengimplementasikan teori yang telah didapat di bangku kuliah. “Jika di kampus mereka memperoleh pengetahuan di dalam kelas, maka praktek kerja lapangan akan memberikan mereka pengalaman untuk mengaplikasikan yang sudah mereka pelajari di kelas,” terang Ajeng.

Menurut kepala jurusan Jurnalistik itu, magang juga dapat melatih soft skill mahasiswa. “Magang tidak hanya berkaitan dengan tugas dan tanggung jawab, tetapi juga sebagai alat ukur dalam menguji kompetensi diri,” ujar Ajeng. Melalui magang mahasiswa akan mengetahui bagaimana cara membina hubungan dengan rekan kerja dan berinteraksi dengan lingkungan pekerjaaannya. Hal itu otomatis akan melatih mahasiswa secara mental dan menambah ilmu pengetahuan di bidang yang mereka tekuni.

Banyaknya manfaat dari magang tersebut seharusnya ditunjang oleh lembaga pendidikan terkait. Namun beberapa pihak mengakui antusiasme mahasiswa untuk magang belum berbanding lurus dengan bantuan dari kampus. Mahasiswa dituntut untuk mencari sendiri tempat magang tanpa dibekali referensi tempat kerja yang memadai dari kampus. Karena itulah banyak mahasiswa yang mengeluh dengan proses pencarian tempat magang tersebut. “Seharusnya kampus bisa memfasilitasi tempat magang untuk mahasiswa, agar kita tidak terlantar untuk mencari tempat magang di mana-mana,” ujar Alayli.

Permasalahan selanjutnya adalah komitmen pada saat magang yang membutuhkan waktu yang lebih dalam bekerja. “Perusahaan itu maunya anak PKL bekerja seperti karyawan lainnya, sehingga menurut saya kampus sudah mulai mempertimbangkan kebijakan mengenai waktu magang ini. Untuk fokus dalam magang, sebaiknya kita dilonggarkan jam kuliahnya,” lanjut Alayli.

Namun kekurangan tersebut diakui Ajeng karena jumlah calon mahasiswa yang ingin magang belum bisa tertampung semua oleh kampus. “Selama ini perguruan tinggi sudah memfasilitasi kemudahan bagi mahasiswa untuk magang, namun masih belum maksimal karena biasanya jumlah calon mahasiswa yang ingin magang lebih banyak dibandingkan dengan lowongan pekerjaan/magang yang disediakan,” terang Ajeng.

Walhasil mahasiswa mengandalkan relasinya untuk memudahkan dalam menemukan tempat magang. Semakin cakap mereka dalam memperluas networking semakin mulus langkah mereka untuk menemukan perusahaan (tempat magang) yang mereka cari. (*/@nurulmelisa)

Tags: ,