Jumlah Ekspatriat Wanita Membengkak

Tak pernah terjadi sebelumnya, jumlah wanita yang dikirim ke tugas-tugas internasional oleh perusahaan mereka mengalami peningkatan. Menariknya, berbeda dengan ekspatriat pria, dalam menjalankan tugasnya di luar negeri para wanita ini cenderung lebih suka tidak didampingi pasangannya.

Survei baru yang dilakukan atas 100 perusahaan multinasional, dengan jumlah 17 ribu orang internasional assignees pria dan wanita menemukan peningkatan istimewa yang mengejutkan dalam jumlah wanita yang ditugaskan di kawasan Asia Pasifik. Di mana, perusahaan-perusahaan tersebut mengatakan, mereka mengirimkan 16 kali lipat wanita dalam kesepakatan kerja tahun ini dibandingkan yang mereka kirimkan pada 2001. Survei dilakukan oleh Mercer Human Resource Consulting.

Sedangkan perusahaan-perusahaan di kawasan Amerika Utara mengirim 4 kali lipat dan di Eropa telah melakukannya rata-rata lebih dari dua kali lipat. “Pertumbuhan tinggi pada angka wanita yang ditugaskan ke luar negeri oleh perusahaan-perusahaan di Asia Pacific merefleksikan fakta bahwa bisnis di kawasan ini, khususnya di China, telah semakin mengglobal,” kata pejabat pada Mercer Human Resource Consulting Yvonne Sonsino.

Lebih dari separo perusahaan multinasional yang diteliti (55%) berharap, pertumbuhan tersebut terus meningkat dalam lima tahun ke depan. Sementara, sepertiga percaya angka tersebut akan tetap sama dan hampir 4% percaya, angka itu akan turun. “Dikirim dalam penempatan ekspatriat merupakan langkah penting bagi jenjang karir, dan ketertarikan wanita dalam mengambil tugas itu meningkat,” kata Sonsino.

Meskipun perusahaan-perusahaan yang disurvei secara umum tidak memiliki kebijakan-kebijakan khusus mengenai ekspatriat wanita, studi itu menemukan beberapa perbedaan dalam perlakuan terhadap dua lawan jenis. Contohnya, 15% perusahaan mengatakan, mereka tidak akan mengirim wanita ke lokasi-lokasi yang sulit seperti Timut Tengah.

Perbedaan Terbesar

Perbedaan terbesar justru terletak pada kecenderungan yang lebih tinggi pada wanita ekspatriat untuk meninggalkan pasangannya di rumah ketika mereka dikirim ke luar negeri, dibandingkan pria ekspat. Hampir 6 dari 10 (57%) perusahaan mengatakan, mayoritas assignees wanita mereka didampingi pasangannya. Hanya 16% yang mengatakan bahwa assignees wanita mereka melakukan hal yang sama.

Ekspatriat wanita juga kurang dibandingkan pria yang umumnya telah memiliki pasangan sebelum menjalankan tugas. Tiga perempat perusahaan mengatakan, mayoritas assignees pria mereka telah memiliki pasangan sebelum dikirim, tapi hanya seperempat yang mengaku hal yang sama untuk ekspatriat wanita.

“Studi ini menunjukkan, pasangan dari wanita-wanita sukses juga cenderung punya kekuatan tinggi dalam karirnya. Ketika wanita didorong untuk tugas internasional, pasangan mereka tak perlu membuat konsesi karir untuk menemani,” kata Ms Sonsino.

Fakta lain yang muncul dari studi yang sama adalah sekitar ekspatriat wanita yang berstatus single parent. Lebih dari 12% (satu dari 10) perusahaan mengatakan, beberapa ekspat wanita mereka adalah orangtua tunggal. Tapi, hanya 4% yang memberikan dukungan tambahan untuk mereka. “Program-program ekspatriat tidak didesain untuk mencakup pemberian dukungan bagi kebijakan mereka soal itu,” simpul Mr Sonsino.

Tags: