Job Boards Akan Tergusur Social Recruiting?

 

 

4 tahun lalu muncul prediksi bahwa Job Boards alias bursa lowongan kerja akan punah seiring berkembangnya social media. Mengapa? karena perekrutan dapat dilakukan dengan jejaring sosial yang sudah memiliki banyak pengguna. Otomatis pekerjaan praktisi HR semakin kompleks dengan adanya social media tersebut.

Namun ternyata prediksi tersebut meleset. Kini kehadiran Job Boards makin meluas dan berkembang. Kini perusahaan dapat memanfaatkan lowongan kerja secara online yang disediakan oleh banyak portal online pencari kerja.

Seperti yang dikatakan Rayanne Thorn, VP dari Evenbase,“Para manager HR tidak kehilangan Job Boards. Bahkan kini ratusan pengusaha di bidang teknologi meluncurkan berbagai macam versi  dari Job Board,” ujarnya. Kini lowongan kerja tersebut dapat diakses secara online dari mana saja.

Sementara koran atau media printing mengalami kesulitan untuk bersaing dengan media online, namun bursa lowongan kerja masih tetap bertahan. “Kami sangat menganjurkan praktisi HR untuk menggunakan social media dalam merekrut, namun portal pekerjaan adalah media efektif untuk menarik jutaan pelamar,” ujar Jessica Miller-Meller selaku social media strategist. “Job Boards bukan gagal dan mati tapi mereka berkembang,” tambah Meller.

Job Boards di Indonesia

Di Amerika Serikat, sekitar 20% pekerja berasal dari perekrutan melalui bursa lowongan kerja, dan 35 ribu perekrut menggunakan teknologi online, Broadbend. Sedangkan di Indonesia, menurut salah satu Job Boards terbesar di Indonesia mengaku ada 30 ribu lowongan pekerjaan setiap hari dan ada 300 jobseeker yang melamar per harinya.

Ternyata penggunaan Job Boards di Indonesia lebih dimanfaatkan para pekerja ketimbang social media. Seperti pernyataan Haryo Suryo Sumarto selaku pendiri PT Headhunter Indonesia, “Pemanfaatan Facebook sebagai salah satu alternatif media rekrutmen masih belum maksimal. Karena Facebook di Indonesia lebih sering digunakan sebagai media sosialisasi secara virtual atau sebagai tempat berjualan online,” ujarnya.

Efektifitas Facebook sebagai media rekrutmen dirasa masih kurang dalam menemukan kandidat yang memiliki kualifikasi sesuai dengan kebutuhan. Pemanfaatan social media di Indonesia masih sebatas sarana branding untuk perusahaan. Sementara Job boards di Indonesia mau tidak mau mengikuti perkembangan tekonologi yang sesuai dengan gaya Jobseeker sekarang. Dan efektifitasnya lebih besar prosentasenya ketimbang social recruiting.

Tugas Utama HR

Industri job boards hanya salah satu pembahasan, yang digarisbawahi adalah tugas utama praktisi HR. “Yang masalah bukan pada Job Boards nya, melainkan para manager HR, perekrut dan profesional HR yang menganggap bahwa dengan memposting lowongan pekerjaan akan mendapatkan kandidat yang sempurna,” ungkap Rayanne.

Memposting lowongan pekerjaan pada Job Boards hanya untuk mengiklankan posisi pekerjaan tersebut, bukan untuk mendapatkan kandidat yang terbaik. “Mencari kandidat sempurna adalah tugas para perkerut bukan Job Boards,” lanjut Rayanne. Job Boards hanya sebagai sarana penyaringan calon kandidat yang dicari, tetapi bukan jalur instant untuk merekrut. Rayanne juga menambahkan berkembanganya Job Boards dan juga social media seharusnya ditopang oleh wawasan Praktisi HR untuk melengkapinya. Sehingga Rayanne menekankan, “Pencari kandidat adalah tugas penting yang seharusnya ditunjang dengan 1 set keterampilan berteknologi,” tambahnya.

Tags: , , ,