Jangan Takut Jadi “Kutu Loncat”

Dalam dunia ketenagakerjaan, ada satu istilah yang membuat “alergi” baik pemimpin perusahaan maupun karyawan. Yakni, kutu loncat. Perusahaan umumnya memiliki persepsi yang negatif terhadap mereka, sehingga para karyawan pun berusaha menghindari kemungkinan untuk mendapatkan predikat itu. Tapi, benarkah kutu loncat itu selamanya buruk?

“Sata agak beda pendapat soal ini dengan teman-teman HR dan para head hunter,” ujar Head of Human Resources PT APL Indonesia Ivan Taufiza. “Loyalitas itu hanya pada profesi, dan bukan pada perusahaan,” tambah dia. Menurut Ivan, bukan tanpa alasan jika orang berpegang pada prinsip loyalitas hanya untuk profesi. Sebab, pada kenyataannya, perusahaan pun punya sikap yang sama dalam memandang karyawan. “Artinya, perusahaan juga hanya loyal pada performance bukan pada karyawan itu sendiri.”

Lebih jauh Ivan mengungkapkan, istilah kutu loncat sebenarnya diciptakan oleh pihak perusahaan. “Itu sengaja digembar-gemborkan supaya bargaining power perusahaan tetap tinggi. Karena orang yang pindah-pindah kan nilai tawarnya jadi kuat, bisa minta gaji tinggi dan sebagainya.”Ivan sendiri mengakui dirinya tergolong kutu loncat.

Ia tidak khawatir selama berpegang pada prinsip “perform sejak hari pertama hingga terakhir”. Atau, dalam istilah dia, sejak hari pertama bergabung dengan sebuah perusahaan, argo langsung jalan. “Percuma saja 20 tahun di perusahaan yang sama, tapi argonya nggak jalan. Jadi, isu besarnya terletak pada, bagaimana caranya orang yang baru masuk bisa langsung perform sampai hari terakhir mereka,” papar Ivan.

Tags: